Translate This Page

Forgive me what can’t I forgiven…


Entah harus ku awali dari mana kisah ini, yang kuingat hanyalah indahnya senja disore itu. Senja yang kulihat untuk terakhir kalinya dikota itu...


Senja di Stasiun Kereta
Panas terik mewarnai siang itu. Hari dimana untuk terakhir kalinya kugunakan seragam putih-biru, seragam yang telah melekat kental kisah indah didalam satiap helai seratnya. Hari itu pun tak kami sia-siakan. Bersama sahabat, kuhabiskan hari itu untuk mengenang setiap kisah yang pernah kami lalui. Hingga sore menjelang, hingga tiba waktu dimana harus ku ucap salam perpisahan kepada mereka. Salam perpisahan yang ku ucap kepada mereka bukanlah sekedar perpisahan yang hanya sebatas pada bangku sekolah.
                Beberapa bulan lalu, dengan wajah sendu Bunda menceritakan kepadaku soal keadaan keuangan keluarga kami. Setelah Ayah di PHK dari pekerjaannya, aku pun paham dengan semua yang Bunda ceritakan. Kedua orangtuaku tak mampu lagi membiayai biaya untukku bersekolah. Bunda pun menuturkan bahwa satu-satunya jalanku jika ingin tetap melanjutkan sekolah adalah dengan tinggal bersama Tante. Beliau akan membiayai semua kebutuhan sekolahku asal aku mau mememaninya untuk tinggal bersamanya di kota yang jauh dari tempat kelahiranku.. Aku pun tak punya pilihan lain, aku tak mau putus sekolah.
                Senja itu Bunda melepasku di stasiun kereta. Semburat jingga yang indah mengantarku pergi, memaksaku meninggalkan semua kenangan, cerita dan sahabat. Kutatap bunda dari jendela, Ia berdiri terpaku dengan wajah sendu, menatap kepergianku di stasiun kereta. Keretapun beranjak dari stasiun, wajah bunda semakin menjauh dari pandanganku, hingga tak dapat kulihat lagi. Kutinggalkan ayah, bunda, sahabat, beserta semua kisah tentang mereka.

 Lembaran Baru
Mentari pagi menyambutku seiring tibanya kereta di kota yang kutuju. Suasana  baru, wajah-wajah baru, dan bahasa yang tak kupahami membuatku merasa sangat asing dengan dunia baruku ini.Tak ada lagi hiruk-pikuk kendaraan terdengar, tak terlihat lagi bangunan-bangunan yang saling berhimpitan, hanya petak-petak sawah yang terbentang menghiasi landscape kota ini. Aku akan tinggal bersama tanteku yang hidup sendiri. Beliau sebenarnya memiliki putra-putrinya yang telah sukses bekerja di kota besar, dan mereka pun pernah mengajak beliau untuk ikut tinggal bersama mereka. Namun beliau menolak untuk ikut dan memilih untuk tetap tinggal walaupun sendiri di desa kelahirannya. Beliau tinggal seorang diri setelah beberapa tahun lalu suaminya meninggal dunia. Untuk itulah sebenarnya beliau memintaku tinggal bersamanya disini.
Mulai saat ini aku tinggal bersama tanteku,  namun aku tak pernah mengenalnya. Aku seperti tinggal bersama orang yang tidak aku kenal. Mungkin dulu waktu kecil aku pernah berkunjung ke tempat ini, namun otakku tak sedikitpun menyimpan memori waktu itu. Sekolah baru, teman baru, dan semua hal baru membuatku menjadi pribadi baru. Kulupakan semua kisah yang ku tinggal dikota kelahiranku. Kan kubuat kisah baru didalam lembaran baru yang kujalani ini.  
                Karakter bawaanku yang pendiam dan sulit berinteraksi dengan orang lain membuat suasana dirumah menjadi sangat canggung. Aku adalah orang yang tak tahu cara menunjukkan perhatian dan rasa simpati pada orang lain, bahkan ketika aku sangat bersimpati pada orang itu. Setiap hari aku hanya mengerjakan pekerjaan rumah tangga untuk sekedar meringangkan beban tanteku yang sudah sangat tua.  Aku tidak pernah berbincang dengan tanteku. Aku tak pernah bertanya apa yang beliau harapkan dari keberadaanku disini, beliau pun tak pernah memintaku untuk melakukan sesuatu. Kami nyaris tak pernah berbicara satu sama lain, kecuali sapaan dan sekedar bertanya –jawab soal sekolahku.
                Suasana rumah yang seperti itu membuatku lebih senang untuk menghabiskan waktu di sekolah. Aku cukup interaktif dalam bergaul di sekolah, beberapa kegiatan sekolah pun rutin kuikuti. Aktivitas dan pergaulan disekolah, serta beberapa prestasi yang berhasil kuraih membuatku terlena dan tak terlalu memperdulikan keadaan di rumah. Setiap pagi aku pergi kesekolah, dan sore hari baru pulang ke rumah. Setiap hari pula tanteku duduk sendiri di beranda depan rumah untuk menungguku kembali pulang. Tahun berganti tahun, banyak kisah baru yang kulalui bersama kawan-kawan disekolah. Namun keseharianku bersama tanteku tetap seperti itu.
                Akhir masa SMA ketika kawan-kawan lainnya tengah sibuk mencari tujuan untuk melanjutkan sekolah, aku tak sedikitpun tertarik dengan hal itu. Rasa sadari diri dengan keadaan memaksaku untuk memupuskan harapan melanjutkan sekolah, cukup sudah aku menjadi beban. Namun beberapa waktu lalu, seorang kawan memberiku harapan untuk melanjutkan kuliah tanpa biaya yang disediakan pemerintah. Aku pun bertekad untuk dapat melanjutkan sekolah melalui jalan itu.

Bercak Kotoran
Seperti hari-hari biasanya sebelum pergi ke sekolah, ku ambil pakain kotor milik tanteku untuk ku cuci bersama pakaianku. Pagi itu ku temukan bercak kotoran di kain yang telah beliau gunakan, mungkin beliau sedang mengalami gangguan pencernaan pikirku, hal seperti itu tak terlalu kuhiraukan. Esok harinya, setiap pagi di hari hari libur aku sempatkan waktu untuk membersihkan lantai rumah. Kembali kutemukan kotoran kehitaman yang tercecer di depan pintu kamar tanteku, tanpa pikiran apapun, kubersihkan saja kotoran itu. Aku pun tak bertanya soal kesehatan tanteku itu.
                Masa ujian telah kulalui, sekarang aku hanya tinggal menunggu hasil kelulusan yang mengantarkanku untuk mengakhiri kisah dikota ini. Hari ini aku berencana untuk mengikuti latihan ujian masuk sebuah sekolah tinggi bebas biaya milik pemerintah. Dengan menunggangi sepeda motor bersama seorang kawan, kami tapaki jalan sejauh 80 kilometer hanya untuk mengikuti latihan ujian tersebut. Kota kami memang sangat kecil, sehingga tidak ada jalan lain kecuali dengan mendatangi kota yang lebih besar untuk mengikuti latihan ujian itu. Malam harinya akupun baru tiba kembali dirumah, kulihat ternyata tanteku sudah tertidur dikamarnya yang tepat didepan kamarku. Lelah seusai melakukan perjalanan jauh, akupun langsung masuk ke dalam kamar dan membaringkan badan dan tertidur pulas.
               
Pagi yang tak terduga
Lelapnya tidur tadi malam, membuatku bangun dengan keadaan bugar pagi ini. Suasana terdengar ramai diluar kamar, mungkin sedang ada tamu pikirku. Tanpa berlama-lama akupun keluar kamar untuk mengetahui keadaan.
                Kubuka pintu kamar, dan segera kulihat hal yang tak terpikir sebelumnya dibenakku. Kutengok kamar tanteku yang dalam keadaan terbuka, tiang penyangga dan beberapa peralatan lain yang tak biasa sudah menghiasi kamarnya. Selang infus dan oksigen sudah terpasang ditubuhnya. Salah satu kerabatku berprofesi sebagai seorang dokter, jadi ia tahu apa yang harus dilakukan. Beliau jatuh sakit setelah kelelahan karena melakukan pekerjaan rumah, cibir salah satu tetangga. Akupun berjalan ke ruang belakang, banyak kerabat dan tetangga yang sudah berkumpul disitu. Kutatap mereka dengan ekspresi keheranan, dan merekapun mencibir serta berbalik menatap sinis padaku.
                Bingung dan tak tahu harus berbuat apa menghadapi suasana seperti itu, akupun duduk dihalaman belakang sambil termenung menatap hamparan sawah yang menguning. Seorang kerabat mendatangiku dan berbicara dengan nada kecewa: “Kamu kemarin kemana? Budhemu itu sedang sakit, tapi kamu kok bisa-bisanya tidur pulas. Bahkan ketika banyak orang berdatangan  dan kami gedor-gedor pintu kamarmu, tapi kamunya gak bangun juga! Lain kali kalau tidur, pintunya gak usah dikunci. Kamu tu seharusnya…...xx.a3?/#@5$&36$&!”. Aku  hanya bisa  termenung mendengar ucapan kerabatku itu. Bahkan aku sendiri  masih terheran-heran dengan apa yang terjadi tadi malam. Sebelumya aku tak pernah mengunci kamar ketika tidur, karena tanteku pernah berpesan demikian. Dan beliaupun kadang-kadang masuk ke kamarku untuk mengambil barang yang tersimpan dilemari kamarku. Bahkan biasanya aku  selalu terbangun ketika ada orang yang mengetuk pintu rumah walau malam sudah sangat larut.
                 
Koma
Beberapa hari berlalu, namun kondisi beliau tak kunjung membaik. Bahkan kini bercak kotoran yang keluar dari tubuhnya sudah bercampur dengan darah. Kerabatku yang seorang dokter membujuk beliau agar mau dibawa ke Rumah Sakit, namun beliau bersikeras untuk tetap berada dirumah.
Semakin hari kondisi beliau semakin parah, hingga akhirnya kami pun membawa beliau ke rumah sakit dalam keadaan koma. Beberapa hari beliau tak sadarkan diri di rumah sakit, dokter memvonis beliau terkena komplikasi liver. Banyak alat kedokteran yang menempel di tubuh beliau untuk menopang kesehatannya. Putra-putri beliau yang berada di beberapa kota besar pun sudah berkumpul untuk mendampingi beliau. Lokasi rumah sakit yang jauh dari rumah serta akses transportasi yang terbatas, membuatku tak setiap hari menjenguk beliau, paling hanya ketika aku mendapat jatah untuk menjaga beliau secara bergantian.
Suatu hari beliau sadar dari koma, dan kebetulan aku sedang berada dirumah sakit bersama putra-putrinya. Salah satu putrinya mencoba untuk memancing respon beliau dengan pertanyaan. Satu persatu nama kerabat disebutkan, dan beliaupun merespon dengan menceritakan memori yang beliau ingat tentang orang tersebut. Dengan mata yang masih terpejam dan dalam keadaan setengah koma serta suara yang lirih, beliau mengungkapkan kesan hingga aib tentang orang-orang yang beliau ingat.
Satu kata yang mengguncang batinku adalah ketika putrinya menanyakan apakah beliau masih ingat padaku, beliau langsung menjawab “tidak” dengan nada yang tegas dan suara yang lebih lantang dari sebelumnya. Entah harus seperti apa menjelaskan perasaan ini, saat mendengar respon beliau yang seperti itu. Pikiranku langsung kalut, pandanganku menjadi kabur, dan jantung ini berdetak tak tentu. Seburuk itukah aku dimata beliau?? Hingga cukup satu kata saja yang perlu beliau ucapkan tentang aku..!

Senja kelabu
Sudah hampir tiga minggu berlalu tanteku dirawat dirumah sakit. Tim dokter akhirnya mengajak pihak keluarga besar untuk bersama-sama membicarakan tentang kondisi kesehatan beliau. Dokter menyampaikan bahwa beliau mampu bertahan hingga saat ini tak lain karena alat penunjang kehidupan yang dipasangkan pada tubuhnya. Tim dokter pun hanya mampu menunggu pihak keluarga untuk mengambil keputusan. Setelah perdebatan yang panjang, akhirnya keluarga pun sepakat dan telah ikhlas untuk membawa beliau kembali kerumah. Aku pun paham tentang arti dari keputusan itu.
                Setibanya tanteku dirumah, tak sedetik pun aku beranjak dari kamarnya. Semua kerabat dan tetangga  berkunjung ke rumah silih berganti. Masih jelas kuingat suasana pada senja itu, tiga hari setelah tanteku kembali dirawat dirumah. Aku duduk disamping tubuhnya, menatap beliau yang tetap terpejam dan bernafas dengan tempo yang sangat lambat. Banyak kerabat dan saudara yang sedang melantunkan doa.
Mentari sudah tenggelam di ufuk barat, seorang kerabat memintaku untuk membeli beberapa barang di toko yang jaraknya cukup jauh, dan dengan segera kukayuh sepeda menuju toko itu. Dalam perjalanan kembali dari toko, entah bagaimana kedua ban sepeda yang saya naiki tiba-tiba kempes. Kudorong sepeda itu dengan segera hingga sampai rumah tetangga terdekat dengan maksud untuk meminjam sepedanya dan meninggalkan sepedaku ditempatnya. Aku tercengang ketika tetanggaku itu keluar rumah dengan ekspresi kaget dan berkata: “Kamu ngapain disini? Kamu gak mendengar kalau Budhe mu baru saya meninggal??”. Innalillahi wa ilaihi rajiun..

Tanpa kata..
Aku hanya bisa berbaring di beranda belakang rumah, ku habiskan waktu disore ini dengan pikiran yang sangat kalut. Pemakaman telah selesai dilaksanakan tadi pagi. Tetangga dan kerabat yang masih berduka, saling bertukar kisah tentang kenangan bersama almarhumah.
Namun ada beberapa perbincangan mereka yang sangat menyakitkan bagiku. Beberapa kerabat dan tetangga ada yang berkomentar bahwa kepergian almarhumah adalah murni kesalahanku. Mereka berpendapat bahwa seharusnya aku bersikap dewasa dan bertanggungjawab untuk menjaga almarhumah, bukan malah sibuk dengan sekolah dan jarang ada dirumah. Mendengar perkataan seperti itu, akupun hanya bisa diam tanpa kata. Sekuat tenaga, kutahan air mata yang mulai tergenang ketika mendengar ucapan mereka.
Tak lama berselang, kedua orangtuaku pun akhirnya tiba ditempat ini. Beliau langsung masuk kedalam rumah tanpa sempat melihatku. Akupun belum mampu mengumpulkan keberanian untuk bertemu dengan semua orang yang sedang membicarakanku. Kulihat dari jendela kedalam ruangan itu, kedua orangtuaku  hanya bisa tertunduk dan meminta maaf kepada mereka. Air mata ini pun mengalir tak terbendung ketika melihat pemandangan itu. Aku telah sangat mengecewakan orangtuaku. Aku baru berani menemui kedua orangtuaku ketika malam telah tiba. Mereka pun tak mampu berkata apa-apa lagi padaku. Mereka tahu bahwa rasa kekecewaanku terhadap diriku sendiri lebih besar dibanding kekecewaan mereka padaku.

Sesal tanpa akhir
Beberapa hari berlalu, bunda telah kembali pulang ke kota untuk menjaga adikku. Namun ayah tetap disini menemaniku yang kini tinggal sendiri selepas kepergian almarhumah. Kuberanikan diri untuk berbincang dengan beberapa tetangga di samping rumahku. Nampaknya rasa kecewa mereka padaku sudah mulai reda. Merekapun bercerita akan kenangan mereka tentang almarhumah. Namun cerita merekalah yang mempertegas dan menyadarkanku akan kenyataan yang mau tidak mau harus ku terima.
                Dari para tetangga, aku tahu bahwa alasan tanteku yang selalu duduk di serambi rumah dan menunggu hingga kedatanganku adalah karena beliau merasa takut berada sendirian didalam rumah itu. Astaghfirullah, hampir tiga tahun aku membiarkan beliau dalam keadaan seperti itu. Dan dari para tetangga pula, aku tahu bahwa beliau tak pernah memintaku melakukan sesuatu adalah karena memang beliau tak memerlukan bantuan apapun. Beliau hanya ingin memiliki teman bicara untuk melepaskan rasa sepi dan menghilangkan kesendirian. Namun aku tak mampu memenuhi keinginan beliau. Hatikupun terasa sesak mendengar semua itu.
Tapi penyesalan terbesarku bukan karena apa yang mereka sampaikan. Melainkan  penyesalan yang muncul dari tanda-tanda yang ditujukan padaku. Petanda awal yang muncul dimalam ketika pertama kalinya tanteku jatuh sakit, mengapa aku bisa tertidur selelap itu. Atau petanda ketika tanteku hanya mengucap kata “tidak” akan kesannya padaku. Dan petanda ketika ban sepeda yang kunaiki tiba-tiba kempes, seolah mengisyaratkan bahwa beliau tidak menginginkan keberadaanku didekatnya saat beliau menghembuskan nafas yang terakhir. Semua petanda itu semakin meyakinkanku, bahwa sesungguhnya memang karena akulah beliau meninggal dunia. Akulah yang bertanggungjawab atas wafatnya beliau….
Semua beban penyesalan itu kini ada dipundakku, menyesakkan hatiku, dan mengacaukan pikiranku. Andai saja aku bisa lebih peka melihat keadaan disekitarku. Andai saja aku bisa terbuka untuk dapat mencurahkan perhatianku. Andai saja.. andai..andai..andai..

Senja di Stasiun Kereta
Telah kuterima surat kelulusanku. Sudah tiba waktunya bagiku untuk pergi dari kota ini. Kembali, kan kutinggal semua kisah dan kenangan dikota ini. Namun tak sanggup bagiku untuk meninggalkan jutaan rasa sesal yang kupunya.
                Senja ini di stasiun kereta, aku akan kembali ke kota kelahiranku untuk mencoba menatap masa depan. Senja ini, kan kutinggalkan kota dengan membawa jutaan sesal dan kecewa yang berselimut di dada.

Forgive me what can’t I forgiven..
Tahun demi tahun telah berlalu. Jutaan lembaran kisah baru pun telah kutulis hingga saat ini. Mungkin kekecewaan mereka terhadapku telah sirna seiring berjalannya waktu. Namun, rasa sesal dan kekecewaanku terhadap diriku sendiri tak berkurang sedikitpun, dan mungkin takkan pernah bisa hilang disepanjang sisa perjalanan hidupku….!!!



Description: Forgive me what can’t I forgiven… Rating: 4.5 Reviewer: F. G. Ramadhan - ItemReviewed: Forgive me what can’t I forgiven…

0 komentar:

NO SPAM, SPAMER'S AKAN SECARA OTOMATIS TERHAPUS DARI FORM KOMENTAR, TERIMAKASIH !