Translate This Page

Save Our Life By Save Theirs Habitat

        Jika anda memiliki hobi jalan-jalan ke tempat wisata alam, mungkin anda juga pernah berkunjung ke beberapa tempat yang sempat saya datangi seperti Sangeh di Bali, atau Taman Wisata Tawangmangu di Solo, atau di samping halaman rumah saya, Dago Pakar Bandung.

Gambar : antaranews.com
             Beberapa persamaan yang saya jumpai ditempat-tempat tersebut adalah banyaknya monyet yang sedang berekreasi ditempat itu. Dan tak hanya ditempat-tempat diatas, hampir di semua tempat wisata alam yang ada di indonesia, kita dapat bertemu pula dengan monyet-monyet yang juga ikut berwisata. Lho, kok monyetnya yang sedang berwisata? Tak hanya berwisata, bahkan merekapun ikut ngantor, seperti dilokasi kantor tempat kawan saya bekerja, dia dapat berjumpa juga dengan monyet-monyet ini. Padahal monyet-monyet itu tidak terdaftar didalam jajaran staf pegawai dikantor tersebut. Saya bukan ahli kebinatangan, jadi saya tidak tahu apakah itu monyet, kera atau kerabat mereka lainnya yang ada disana, saya hanya tahu kalau itu adalah monyet. Salah satu alasan pasti tentang keberadaan monyet di tempat-tempat diatas tak lain karena memang dulunya tempat-tempat itu adalah habitat asli mereka.
Gambar: langitberita.com
          Perkembangan populasi manusia yang pesat mendorong manusia itu sendiri untuk meng-ekspansi lingkungan dalam rangka pemenuhan kebutuhan dalam beraktivitas. Bisa untuk alasan pemukiman, ladang garapan, atau sekedar tempat wisata. Dan pada umumnya hal itu dilakukan dengan cara pembukaan hutan alias pengambil-alihan habitat makhluk lain, termasuk habitat kepunyaan para monyet ini.
           Jadi pada awal masuknya manusia kedalam habitat monyet ini, kita selaku manusia sebenarnya berada dalam posisi ‘tamu’, dan monyet itu sebagai ‘tuan rumah’. Namun, karena kita adalah “tamu istimewa”, yang suka berbuat seenaknya, akhirnya  si tuan rumah pun terusir dari habitatnya sendiri. Dan jadinya seperti sekarang ini, habitat yang dulunya kepunyaan para monyet sudah beralih kepemilikan kepada manusia. Dalam kasus taman wisata, keberadaan para monyet ditempat itu sekarang hanya berstatus sebagai ‘tamu’ alias wisatawan.
gambar: tripadvisor.co.id
              Satu hal unik yang saya soroti dari keberadaan para monyet ini ditempat-tempat wisata adalah ulah mereka yang selain sebagai daya tarik wisata untuk para pengunjung, namun mereka juga cukup menyebalkan dan terkadang jadi biang kerok bagi para pengunjung. Para monyet yang hobinya merebut jajanan atau barang bawaan pengunjung, memang asik dijadikan sebagai tontonan bagi pengunjung lainnya. Tapi tidak demikian ceritanya bagi pengunjung yang secara langsung berurusan dengan para monyet ini. Seperti kawan saya yang rebutan botol minuman dengan para monyet ini, saya sih hanya tertawa senang melihat kejadiian lucu itu, walau kawan saya merasa sangat kesal. Atau kasus wisatawan yang kameranya di rebut oleh monyet, mungkin wisatawan tersebut disangka sebagai paparazi yang sudah mengganggu privasi para monyet itu.
        Namun saya memiliki tuduhan tersendiri kepada para monyet ini, sepertinya mereka sedang melancarkan aksi zionisme alias merebut kembali lahan sendiri. Politik yang mereka pakai ini, menggunakan strategi yang sama persis seperti ketika mereka diusir oleh manusia pada waktu sebelumnya, yaitu dengan menjadi “tamu istimewa” yang suka berulah seenaknya. Malangnya bagi si monyet, sepertinya strategi mereka tak berjalan sesuai harapan. Dengan alih-alih ingin merebut kembali habitat, ulah mereka justru menjadi daya tarik tersendiri bagi manusia, dan semakin menegaskan bahwa habitat mereka kini telah resmi berada dibawah kepemilikan manusia. Untung saja para monyet ini belum melancarkan gerakan politik untuk mengambil kursi pemerintahan atau malah menjadi kelompok saparatis bersenjata.

Gambar: allposters.com, xnews

                Yuups, keberadaan para monyet ditempat wisata atau lingkungan sekitar kita, mau tidak mau harus diakui sebagai sebuah akibat dari tindak penggusuran habitat yang sebelumnya menjadi rumah bagi para monyet itu. Tapi saya tak ingin berbicara panjang mengenai hal ini, karena pada dasarnya manusia melakukan hal itu pun untuk kepentingan manusia itu sendiri, walau harus mengesampingkan kepentingan para monyet.
                 Namun terlepas dari hal itu, satu poin yang ingin saya garis bawahi disini adalah bahwa kita itu hidup berdampingan dengan alam. Alam itulah yang menjadi sumber penghidupan kita. Mau tidak mau, kita harus menjaga alam itu sebaik mungkin jika kita masih ingin mendapatkan penghidupan yang layak darinya.
Gambar: catatanpudar
 Go Green.. Save Our Life By Save Theirs Habitat..
jangan sampai anak cucu kita nanti hanya bisa melihat monyet
dalam bentuk gambar atau video

Semoga para monyet itu tidak membaca artikel ini, 
Sehingga mereka tetap tidak menyadari bahwa strategi yang mereka gunakan dalam rangka pengambil-alihan kembali habitatnya itu, sebenarnya telah gagal total.. J

Gambar: pemustaka.com
Description: Save Our Life By Save Theirs Habitat Rating: 4.5 Reviewer: F. G. Ramadhan - ItemReviewed: Save Our Life By Save Theirs Habitat

2 komentar:

  1. Ya iyalah, kalo nggak keliatan mah gak ada efek lucunya.. hehe

    BalasHapus

NO SPAM, SPAMER'S AKAN SECARA OTOMATIS TERHAPUS DARI FORM KOMENTAR, TERIMAKASIH !