Translate This Page

Pendakian, menghayati jejak sang maut..


Bagi mereka, pengalaman bukanlah sekedar kejadian yang memiliki arti..
Bagi mereka, sebuah perjalanan tak hanya dilihat dari seberapa banyak jejak yang mereka pijak, atau seberapa jauh yang mampu mereka tuju..
Tantangan dan rintangan yang mereka hadapi hanyalah sekedar kelakar dalam kisah yang mereka tulis..

Rama, Anto, Tomo dan Oo, empat serangkai yang tergabung dalam sebuah kelompok yang dengan bangga mereka sebut sebagai “The Game Bells”. Sebuah nama yang diambil dari hobi yang sama-sama mereka geluti, yaitu berpetualang. Yuups, The Game bells (baca: de gembel) yang merepresentasikan kerjaan mereka yang suka “menyusahkan diri” dalam setiap petualangan yang mereka jalani. Banyak hutan telah mereka telusuri, banyak gunung yang telah mereka daki, walau hanya dalam angan-angan mereka. Yaah maklum, keterbatasan mereka dalam urusan finansial harus memaksa mereka untuk memendam hasrat bertualang dalam jiwa mereka. Low skills & knowledge serta Underdog experience yang mereka miliki semakin memantapkan nama yang disandang oleh kelompok itu.Orang-orang yang juga tergabung dalam sebuah organisasi MAPALA ini memang tak memiliki jam terbang yang tinggi, namun sudah cukup untuk dijadikan sebagai pengalaman bagi mereka. Beberapa puncak tertinggi di pulau jawa pun berhasil mereka tapaki sebagai trophy, walau harus dijalani dengan susah payah serta tantangan dan rintangan yang ‘tak lazim’ dihadapi oleh pendaki berpengalaman pada umumnya.
Suatu hari Rama mendapat issue bahwa beberapa waktu yang lalu ditemukan  tujuh orang anggota SMAPALA  yang ditemukan tewas keracunan gas vulkanik didekat kawah sebuah gunung. Mendengar informasi tersebut, ia pun mengajak kawan-kawannya untuk melakukan pendakian ke gunung itu. “Ayolah, dah lama juga kita gak naek, itung-itung refreshing”, bujuk Rama pada kawannya. Gunung yang satu ini sebenarnya sudah tak asing bagi mereka,sudah berkali-kali mereka menjelajahi bagian dari gunung ini. Gelar ‘Taman Nasional’ yang disandang gunung ini pun seolah menjadi indikasi bahwa gunung ini ‘aman’ untuk di daki,  sehingga mereka pun memutuskan untuk kembali melakukan petualangan di gunung itu. Anto yang saat itu berhalangan, memutuskan untuk tidak ikut dalam pendakian itu. Namun kawan mereka yang lain, yaitu Abdi dan Wawan berminat untuk bergabung. Jadilah mereka berlima melakukan ekspedisi ke gunung itu.
Perlengkapan standar, serta perbekalan seadanya tak mengurangi gairah dan semangat mereka untuk melakukan perjalanan kali ini. Satu kebiasaan buruk yang selalu mereka lakukan dalam pendakian adalah menghindari pos pengamatan. Pos pengamatan merupakan tempat yang seharusnya ‘kudu’ disinggahi para pendaki agar mendapat ijin untuk melakukan pendakian resmi, tujuannya tak lain untuk menginformasikan kegiatan pendakian yang kita lakukan di gunung itu, sehingga petugas pengawas dapat lebih tanggap jika ada insiden tak terduga yang dialami oleh para pendaki. Namun biaya registerasi yang dikenakan di pos pendakian tersebut menjadi rintangan tersendiri bagi kelompok The Game bells itu. Mereka pun mengambil resiko untuk melakukan pendakian tanpa ijin dan tanpa sepengetahuan petugas pos. Mereka lebih memilih untuk menerobos hutan rimba agar dapat melewati pos pengawasan. Selain lebih berasa kesan ‘petualangan’nya, tindakan ini juga lebih irit biaya.
Matahari tepat berada diatas kepala ketika mereka tiba di rest point, sebuah area yang cukup terbuka di bagian lereng gunung itu. Jarak kawah hanya tinggal dua jam perjalanan dari titik itu. Merasa masih memiliki banyak waktu, mereka pun melakukan ‘bongkar-muat’ perbekalan. Disela-sela waktu istirahat, Oo mulai membuka obrolan “Kok bisa ya kmarin ada pendaki yang tewas keracunan disini, padahal nie gunung cukup bersahabat”. Rama pun menjawab sambil berkelakar, “Ah, judulnya juga anak SMAPALA, low skills brow, gak cocok main kesini, cocoknya main di BuPer..!”. Yang lain pun tertawa mendengar jawaban Rama. Mereka memang suka berkelakar dengan meng-”under-estimate”-kan orang-orang yang hanya berani main ke ‘BuPer’ alias ‘Bumi Perkemahan’, sebuah sindiran yang mereka tujukan untuk anak-anak pramuka.
Setelah selesai mengganjal perut dan mengisi kembali persediaan air minum, mereka pun melanjutkan perjalanan. Karena sudah untuk kesekian kalinya melakukan pendakian di jalur ini, Tomo pun mengusulkan agar kali ini mereka melakukan “belah gunung”, sebuah istilah yang mereka pakai untuk mendaki sebuah jalur hingga ke puncak, lalu menuruni kawah, dan turun melewati jalur lain pada sisi yang berbeda dari lereng gunung tersebut. Dan mendengar usulan Tomo itu, yang lain pun sepakat.
Sore hampir menjelang, ketika mereka tiba di bibir kawah. Asap belerang cukup pekat disitu. Awan mendung  menutupi puncak saat itu. Lanskap kawah yang berubah karena letusan beberapa waktu lalu membuat mereka merasa asing dengan tempat yang sebenarnya biasa mereka kunjungi. Jalur yang biasa dilewati pendaki untuk menuruni disisi seberang kawah pun terputus dan hilang tanpa jejak. Mulut kawah yang menjadi lebih luas dari yang mereka ingat, letupan  kubangan lumpur vulkanik di beberapa sudut kawah, serta adanya aliran sungai kecil didasar kawah, membuat mereka berniat untuk mengurungkan rencana ‘belah gunung’ yang telah direncanakan. Beberapa pertimbangan dan perdebatan kecil menghiasi perjalanan mereka.
Oo : ”yakin nie mo belah gunung?
Tomo : “Tau dah, tapi gw yakin jalurnya disono (sambil menunjuk salah satu bukit di sebrang bibir kawah)
Abdi : “Terserah lu si brow, gw ngikut aja. Yang penting kita cepet ambil keputusan, dah mulai gerimis nie, asap dah mulai ngendap, gak bagus kita lama-lama disini
Wawan : “apa kita balik aja ke bawah?
Tomo : “Terserah sih, kalo emang ragu, ya udah balik aja
Rama : “Set..daah, harga diri brow, sama aja kita ma anak BuPer kalo balik lagi
Beberapa pertimbangan pun mereka ambil, dan sesuai motto yang mereka usung “Makin ancur, makin asik”, akhirnya mereka pun memutuskan untuk tetap menuruni kawah. Suasana ternyata lebih terasa mencekam bahkan saat mereka berada dipertengahan lereng kawah. Hujan turun lebih lebat, asap belerang mulai mengendap dan menyebar mendatar. Sungai yang terlihat kecil dari atas kawah, ternyata alirannya lebih besar dari yang mereka perkirakan. Namun mereka pantang untuk mundur, dan tetap nekat melintasi dasar kawah.
Tiba didasar kawah, mereka semakin mempercepat langkah. Satu hal yang sangat mengkhawatirkan mereka adalah asap belerang yang tak mampu lepas ke udara akibat terikat oleh butiran hujan dan mengendap. Mereka jadi teringat kejadian meninggalnya anak SMAPALA yang keracunan gas vulkanik. Pikiran mereka dihantui oleh kejadian itu, mungkin waktu itu anak-anak SMAPALA tersebut mengalami hal yang sama persis seperti yang mereka alami saat ini. Pikiran itu memaksa mereka untuk mempercepat langkah, bahkan tak ada lagi ekspresi riang diwajah mereka yang kini sudah dihiasi raut kecemasan.
Tomo berjalan paling depan, di ikuti oleh Abdi, Wawan, Oo dan Rama. Mereka mulai menyebrangi sungai yang kini semakin membesar karna hujan yang tak kunjung reda, malah semakin deras. Rama yang berbadan ringan sedikit phobia ketika harus menyebrangi sungai didasar kawah itu. Dia pun menjaga jarak sedekat mungkin dengan Oo yang berada didepannya, sambil mendorong Oo untuk mempercepat langkah karna ia tak nyaman berlama-lama didalam aliran sungai. Sungai itu sendiri tak terlalu dalam, hanya setinggi paha, namun arusnya semakin deras.

Tomo, Abdi, dan Wawan berhasil menyebrangi sungai. Musibah menimpa Oo yang tiba-tiba menghentikan langkah ditengah sungai, ia berteriak kesakitan karena kakinya tiba-tiba keram. Rama pun semakin cemas dan mulai panik. Ia tak mungkin meninggalkan Oo ditengah sungai, namun ia pun tak mau berlama-lama terjebak disitu. Dengan panik, Rama mendorong Oo dan memaksanya untuk tetap melangkah walau dengan terseok-seok. Setelah menyebrangi sungai, Oo pun hanya bisa terbaring sambil meluruskan kakinya. Sementara yang lain berusaha mencari jalan yang mudah dilalui untuk keluar dari dalam kawah.
Hari mulai gelap, dan lereng kawah terpecah-pecah akibat aliran air yang muncul akibat hujan yang bertambah deras, hal ini semakin menyulitkan mereka untuk mencari jalan keluar.   Beberapa tebing terlalu curam untuk didaki, beberapa bukit terlalu pekat dengan belukar untuk dilalui. Mereka terjebak dikawah itu dengan dihantui kejadian tewasnya anak-anak SMAPALA yang sempat mereka jadikan bahan kelakar. Untungnya alam masih berbelaskasih pada mereka.  Angin menjauhkan mereka dari pekatnya asap belerang disudut kawah itu. Mereka tak henti memperhatikan arah angin sambil mencari jalan keluar, dan hanya bisa berharap semoga asap belerang itu tak mengarah tepat ke mereka. Dibawah kepanikan, tak ada pilihan selain menerobos belukar yang curam agar mereka dapat segera keluar dari kawah itu sebelum gelap. Salah satu dari mereka menerobos belukar curam yang merupakan bagian dari dinding kawah. Setelah merasa bisa dilalui, yang lain pun mengikuti, termasuk Oo yang memaksakan kakinya untuk melangkah.


Siang telah berganti malam ketika mereka sudah berhasil keluar dari dalam kawah. Hujan tetap deras dan menggenangi jalan setapak yang kami lalui hingga setinggi lutut. Mereka seperti berjalan didalam aliran sungai. Mereka berjalan hanya diterangi lampu yang berasal dari LED yang terpasang pada sebuah korek gas, mereka memang tak berencana untuk melakukan perjalanan malam.
Waktu sudah  menunjukkan pukul sepuluh malam, hujan telah reda ketika mereka tiba di rest point, sebuah area terbuka yang luas namun telah tergenang air setinggi mata kaki. Disinilah lokasi ditemukannya tujuh orang anggota SMAPALA itu. Mereka pun duduk sejenak mengistirahatkan tubuh yang sangat kelelahan, asap belerang yang terbawa angin memang sangat terasa di tempat itu. Pikiran mereka pun melayang, membayangkan apa yang dialami anak-anak SMAPALA itu. Setelah apa yang baru saja mereka lalui, mereka berpikir bahwa mungkin seperti inilah kejadian yang dialami anak-anak itu. Sebuah keteledoran yang terdorong oleh hasrat bertualang.
Tak lama mereka istirahat ditempat itu. Kisah yang terjadi beberapa waktu lalu ditempat itu, ditambah aroma belerang yang tak mau menghilang, memaksa mereka untuk terus melanjutkan perjalanan walau dengan kondisi badan yang masih letih dan tanpa lampu penerang jalan.
Waktu menunjukkan pukul dua dinihari ketika akhirnya mereka tiba di kaki gunung. Tak ada jalan lain, mereka pun beristirahat di area pos pengamatan yang sekaligus berfungsi sebagai Bumi Perkemahan.
Pagi menjelang ketika beberapa orang penjaga pos menghampiri tenda mereka. Mungkin penjaga pos itu keheranan dengan adanya tenda tambahan yang berdiri di area yang mereka jaga. Penjaga pos pun sempat menanyakan soal berkas perijinan keberadaan mereka disitu. Namun, pengalam akan kondisi tersebut membuat para  The Game Bells mampu berkelit perihal keberadaan mereka.
Takut dicurigai lebih lanjut, mereka pun langsung cabut dari bumi perkemahan itu. Ditengah perjalanan pulang, mereka pun tertawa lepas, mengenang petualangan konyol yang baru saja mereka alami……..


Makin Ancur … Makin Asik
..semakin berat rintangan yang kita hadapi..
..semakin manis pula kisah itu untuk kita kenang..
(terinspirasi dari sebuah petualangan nyata)
-END-



Description: Pendakian, menghayati jejak sang maut.. Rating: 4.5 Reviewer: F. G. Ramadhan - ItemReviewed: Pendakian, menghayati jejak sang maut..

2 komentar:

  1. TUHAN BERSAMA ORANG-ORANG YANG BERANI

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seseorang dari pasembahan gunung Ciremai nie kayaknya..

      Hapus

NO SPAM, SPAMER'S AKAN SECARA OTOMATIS TERHAPUS DARI FORM KOMENTAR, TERIMAKASIH !