Translate This Page

Iman & Logika : Pertanyaan seorang pemuda tentang wujud tuhannya

Alkisah ada seorang pemuda yang merantau jauh ke negri orang untuk menuntut ilmu. Selama perantauannya, ia telah menelan banyak sekali ilmu yang ia gali di kampus tempatnya belajar. Otaknya sudah dijejali dengan banyak pengetahuan tentang dunia. Hingga ia pun terlena dan pandangannya hanya terfokus pada ilmu dunia. Pola pikirnya hanya bekerja pada perkara yang dapat dijamah dengan logika dan diterjemahkan dalam bahasa yang ia kenal dengan istilah  “sains”. Ia tak kenal lagi dengan kata iman, karna iman tak mampu dideskripsikan dalam logika sains yang ia miliki.

Selesai menelan ilmu pengetahuan di negeri sebrang, si pemuda pun kembali ke tanah air. Ilmu pengetahuan yang ia dapatkan selama perantauan ia aplikasikan dalam hidupnya. Banyak hal didunia yang mampu ia pecahkan dengan logikanya. Si pemuda pun diakui dalam hal keilmuannya, ia dipercaya untuk menjadi “Tokoh Sains” di lingkungan sekitarnya. Ilmu sains dan logika yang ia miliki mampu ia terapkan dengan baik, sehingga ia mampu menjalani kehidupannya dengan sukses. Hingga suatu hari, si pemuda mendapati benturan logika dalam hatinya.

Suatu hari si pemuda teringat dengan masa kecilnya, masa-masa ketika ia belajar tentang agamanya. Masa dimana ia mengaji bersama teman-temannya. Ia masih mengingat tentang bagaimana ia belajar untuk mengenali tuhannya, mengetahui keberadaanNYA dari tanda-tanda ciptaanNYA. Tapi kini hal itu seakan menjadi tabu dari sudut pandangnya. Imannya kini terbentur dengan logika yang menguasai akalnya. Bukannya ia tak percaya dengan keberadaan tuhan, tapi ia tak bisa meyakini sesuatu yang tak mampu dipecahkan oleh logika. Logika menuntun akalnya pada sebuah pemikiran, jika semua ciptaanNYA yang berwujud dapat diterjemahkan dengan mata dan akal, lalu mengapa wujudNYA tak mampu untuk ia telusuri dengan logikanya?

Untuk menghilangkan dilema pemikiran dalam hatinya, si pemuda pun mencari jawaban yang mampu ia pahami dengan logikanya. Ia mendatangi seorang ulama, dan kepada ulama itu si pemuda bertanya:
Pemuda: “Pak Ustadz, tolong jelaskan pada saya tentang wujud Allah!”
Pak ustadz pun menjelaskan tentang Ma’rifat Allah, sifat-sifatNYA, Kebesaran dan keagunganNYA, tapi penjelasan pak ustadz tersebut tak mampu memuaskan logika si pemuda. Tak tahu cara untuk menjelaskan ke si pemuda, Pak Ustadz pun akhirnya menyerah dan berkata:
Pak Ustadz: “Wahai pemuda, berilah saya waktu untuk kembali mendalami ilmu agama, agar saya bisa memberi penjelasan yang lebih baik padamu!”
               
Logika si pemuda yang haus akan jawaban membuatnya tak sabar untuk menunggu. Ia pun pergi dari tempat tersebut dan mencari ulama lain yang bisa menghilangkan dahaga logika atas pertanyaannya. Hingga si pemuda pun sampai pada ulama yang kedua, dan ia kembali bertanya:
Pemuda: “Pak Ustadz, tolong jelaskan pada saya tentang wujud Allah!”
Tapi Ulama kedua yang ia datangi pun memberi jawaban yang tak jauh berbeda dengan ulama pertama dan akhirnya hanya berkata:
Pak Ustadz: “Wahai pemuda, berilah saya waktu untuk kembali mendalami ilmu agama, agar saya bisa memberi penjelasan yang lebih baik padamu!”
               
Belum menyerah untuk mencari jawaban, si pemuda pun mencari ulama yang bisa memberikan jawaban yang ia inginkan. Sampailah ia kepada ulama yang ketiga. Dan si pemuda pun memberi pertanyaan yang sama:
Pemuda: “Pak Ustadz, tolong jelaskan pada saya tentang wujud Allah!”
Tapi dari ulama yang ketiga ini, si pemuda mendapat jawaban yang tak ia duga. Segera setelah si pemuda menyampaikan pertanyaannya, serta merta ia ditampar oleh sang ulama. Sambil mengerang kesakitan, si pemuda pun berkata:
Pemuda: “Wahai Pak Ustadz, jika bapak tidak bisa memberi jawaban atas pertanyaan saya, cukup bapak bilang saja tidak tahu, tapi tak perlu bapak menampar saya.”
Pak Ustadz: “Wahai pemuda, apakah tamparan saya itu terasa sakit bagimu?”
Pemuda: “Tentu saja.”
Pak Ustadz: “Lalu bisa kah kamu tunjukkan padaku  dengan logikamu tentang wujud dari rasa sakit itu?”

Mendengar pertanyaan tersebut, logika si pemuda pun berputar. Ia tahu bahwa sakit yang ia rasa itu adalah nyata, tapi ia tak mampu untuk menggambarkan wujud dari sakit yang ia rasa. Si pemuda tersebut tahu tentang bagaimana sakit itu terasa, tapi ia tak mampu untuk menunjukkan wujud dari rasa sakit tersebut. Hingga Akhirnya si pemuda pun hanya bisa terdiam.
Melihat si pemuda yang terdiam dalam kemelut logikanya sendiri, Pak Ustadz pun kembali berkata:
Pak Ustad: ”Wahai pemuda, sesungguhnya semua ilmu yang mampu kau telan dengan logikamu itu hanyalah setitik saja dari ilmu yang Allah curahkan. Logikamu itu takkan sanggup menerima semua ilmu yang Allah beri. Wahai pemuda, janganlah kau bermimpi tuk dapat menjabarkan wujud Allah dengan logikamu jika untuk menerima tanda-tanda kebesaranNYA di hatimu saja tak mampu kau lakukan. Wahai pemuda, tahukah kamu tentang kisah Musa a.s yang meminta untuk bisa melihat wujud Allah di bukit sinai? Sesungguhnya hanya dengan diperlihatkan tanda-tanda kebesaranNYA saja, beliau a.s sudah tak mampu menerimanya hingga beliau a.s jatuh pingsan!”

Mendengar kata-kata Pak Ustadz tersebut,  pikiran si pemuda pun terbuka, logikanya berkata: “Allah memberiku Akal pikiran dan hati nurani tak lain adalah agar aku mempergunakan keduanya”.  


**catatanpudar**


Description: Iman & Logika : Pertanyaan seorang pemuda tentang wujud tuhannya Rating: 4.5 Reviewer: F. G. Ramadhan - ItemReviewed: Iman & Logika : Pertanyaan seorang pemuda tentang wujud tuhannya

2 komentar:

NO SPAM, SPAMER'S AKAN SECARA OTOMATIS TERHAPUS DARI FORM KOMENTAR, TERIMAKASIH !