Translate This Page

Bebanmu tak seberat bebanku..


Saya bukanlah seorang psikolog, saya juga bukan seorang cenayang (sumpah, saya bukan mbah subur..hehe!), tapi saya punya hobby yang boleh dibilang kurang kerjaan. Sebuah hobi yang pada awalnya saya anggap sebagai kelebihan dalam diri saya (pada awalnya).

        Setiap kali berjumpa dengan seseorang, seolah-olah menjadi insting saya untuk mencoba menerka dan menganalisa tentang sikap, sifat, hingga cara pengucapan kalimat dan nada bicara oranglain. Dan dari hasil observasi yang boleh dibilang kurang kerjaan itu, saya serta-merta mengambil kesimpulan secara sepihak tentang orang yang saya temui. Namun bermula dari sinilah salah satu fenomena keunikan hidup dapat terlihat. Ternyata bukan saya saja yang mempraktekan 'hobby kurang kerjaan' itu, banyak pula diantara kita pun terbiasa untuk selalu menerka-nerka sesuatu yang sebenarnya belum pasti kita ketahui.

SALAH TERKA
           Pernah dengar wejangan pepatah yang mengatakan bahwa "rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau'? Ternyata kebiasaan saya untuk menerka tentang kehidupan seseorang memberi saya pemahaman yang berharga.
            Anggaplah ada seorang kawan yang memiliki basic hidup cukup berbeda dari saya baik dibidang gayahidup maupun pekerjaan. Setiap kali kita berdiskusi tentang suatu hal (yaah seperti diskusi-diskusi pada umumnya), kadang ada yang sepaham atau bertentangan. Tapi satu hal pasti, jika kami berdiskusi soal pekerjaan, pastinya kami akan selalu bertolak belakang.
           Saya bekerja dibidang yang boleh dibilang cukup membosankan (sebenarnya idaman bagi para pemalas). Saya tidak memiliki tuntutan ataupun target prestasi dalam bekerja ( hal ini bukan berarti saya seorang pemalas ) karena pekerjaan saya memang tidak memiliki bobot tanggungjawab yang besar. Namun bukannya tanpa konsequensi, penghasilan  saya boleh dibilang standar, yaah hanya cukup untuk menjalani hidup (itupun masih Alhamdulillah..!!).
           Jadi, suatu hari kawan saya mengeluh tentang pekerjaannya dan dia melontarkan argumennya kepada saya :
 " Lu mah enak, cuman bengong, nyantey-nyantey, pergi kantor suka-suka, trus banyak libur pula. Gak kayak gw yang tiap hari kerja dari pagi mpe sore, kadang pulang malem malah. Belom lagi kerjaan gw yg nguras tenaga, mana libur cuman hari minggu doang, kapan gw nikmatin hidup..! coba gw dapet kerjaan kayak lu.." .
Mendengar argumen kawan saya itu, serta-merta saya membantahnya. Bukan karena saya tak mau dianggap sebagai pemalas atau tak berkompeten dalam bekerja, tapi karna argumen kawan saya itu memang hanya PITNAH belaka (walau sebagian besar benar sih..).
Jadi saya pun berargumen balik :
 "Woooi, enak apaan, gaji gw kecil bro, hutang gw banyak di bank, sama aja gw gak bisa nikmatin hidup. Yang enak tuuh Lu..!, Gaji gede, kerjaan jelas, biar kata pulang telat, duitnya juga banyak. Kalo gw jadi lu, rela gw lembur tiap hari yang penting banyak duit.."
                 Tapi memang, argumen yang saya ungkapkan itu benar-benar merepresentasikan apa yang saya rasa. Pekerjaan saya yang tanpa beban dan tanpa tuntutan itu memberikan efek buruk untuk pola hidup saya. Saya sangat bosan dan jenuh dengan keseharian kerja saya. Tidak ada tuntutan pekerjaan, membuat saya jadi tak produktif. Pekerjaan yang tak memiliki beban tanggungjawab membuat saya merasa bahwa apa yang saya kerjakan tidak memberi efek nyata, saya merasa itu sia-sia. Semakin lama, saya pun merasa stress dengan kondisi saya, dan kehilangan motivasi. Saya bekerja tapi tak bisa melihat hasilnya.
              Dan jika saya resapi argumen dari kawan saya itu pun memang benar. Dia pun merasa jenuh dengan pekerjaannya. Mungkin dia merasa bahwa : "untuk apa saya bekerja, jika saya tidak dapat merasakan hasilnya".

Dari kejadian ini saya jadi teringat sebuah tulisan yang diposting di facebook seorang kawan, yang mungkin dapat merepresentasikan lebih jelas dan memberikan pesan bijak untuk kita :

=================================
Kisah Siput dan Katak

Ada seekor siput selalu memandang sinis terhadap katak. 
Suatu hari, katak yang kehilangan kesabaran akhirnya berkata kepada siput : 
“Tuan siput, apakah saya telah melakukan kesalahan, sehingga Anda begitu membenci saya?” 
Siput menjawab: 
 “Kalian kaum katak mempunyai empat kaki dan bisa melompat ke sana ke mari, Tapi saya mesti membawa cangkang yang berat ini, merangkak di tanah, jadi saya merasa sangat sedih.” 
Katak menjawab:  
“Setiap kehidupan memiliki penderitaannya masing-masing, hanya saja kamu cuma melihat kegembiraan saya, tetapi kamu tidak melihat penderitaan kami .”
Dan seketika, ada seekor elang besar yang terbang ke arah mereka, siput dengan cepat memasukan badannya ke dalam cangkang, sedangkan katak dimangsa oleh elang.
=================================

Nikmatilah kehidupanmu, tidak perlu dibandingkan dengan orang lain. keirian hati kita terhadap orang lain akan membawa lebih banyak penderitaan. Lebih baik pikirkanlah apa yang kita miliki. Hal tersebut akan membawakan lebih banyak rasa syukur dan kebahagiaan bagi kita sendiri.

Anda mungkin tertari untuk membaca artikel tentang : Konsep Sederhana Tentang Masalah Dalam Hidup


Description: Bebanmu tak seberat bebanku.. Rating: 4.5 Reviewer: F. G. Ramadhan - ItemReviewed: Bebanmu tak seberat bebanku..

0 komentar:

NO SPAM, SPAMER'S AKAN SECARA OTOMATIS TERHAPUS DARI FORM KOMENTAR, TERIMAKASIH !