Translate This Page

Bahaya mana: Preman-isme atau Gay-isme ??


Sebelum masuk ke judul yang agak saya paksakan ini, saya ingin bercerita sedikit tentang pengalaman saya..

==================================
Beberapa tahun lalu ketika masih kuliah, saya berprofesi sampingan sebagai seorang pengelana malam di IbuKota (kuli waitress di agen W.O, brow). Yaah, bekerja dimalam hari dari gedung ke gedung untuk mempersiapkan acara pernikahan esoh paginya. Kejadian unik terjadi pada suatu malam, ketika saya telah selesai “dinas” disebuah gedung di daerah salemba, dan hendak pergi ke gedung lainnya dikawasan senen.
Malam itu sekitar pukul 22.30, naik angkot ke arah senen yang sudah sepi penumpang. Hanya ada saya, Om supir, dan seorang penumpang lain yang berbadan besar dan cukup atletis. Saya duduk didepan pintu penumpang, tepat dibelakang Om supir, dan dia duduk dipojokkan angkot. Awalnya saya tidak mencurigai apapun sampai saya melirik spion penumpang milik Om supir, dan ternyata penumpang berbadan atletis itu sedang memperhatikan saya.
“Waduuh modus nie, jangan-jangan gw mo jadi calon korban perampokan diangkot” pikir saya. Sebenarnya saya gak terlalu mengkhawatirkan hal itu, body saya juga gak jelek-jelek amat. Dengan stelan ‘Cepak’ dan didikan semi militer (bukan mo sombong nie), walau kondisi kelelahan usai bekerja, sedikitnya saya masih punya sedikit modal lah buat bikin perlawanan, ato minimal lompat lewat pintu yang menganga dihadapan saya.
Saya perhatikan Om supir, sepertinya dia tidak ada kaitan dengan penumpang dibelakang saya. Tapi saya tahu lewat kaca spion, kalau si penumpang dipojokan itu terus memperhatikan saya. Biar gak penasaran, saya balikkan pandangan saya langsung ke arah dia, tapi dia langsung membalikkan arah pandangannya. Dan ketika pandangan saya kembali ke arah depan, ia kembali memperhatikan saya. Saya pun bergumam dalam hati, “Brengs*k juga ni orang, kalo mo cari ribut jangan sekarang, gw lagi capek!”.
Ketika angkot mulai naik jembatan layang, saya berpikir ulang : “ waduuuh, repot jg kalo gw disikat disini, lompat dari angkot sama aja bunuh diri”. Saya memperhatikan si penumpang ‘rese’ itu, kalau-kalau dia bikin gerakan, saya dah siap pasang badan. Namun ternyata setelah angkot melewati jalan layang, si penumpang itu memberi kode kepada Om supir bahwa ia mo turun. Daaan.. Eng..ing..eeng.. ketika si penumpang berbadan tegap itu turun, ternyata ia membawa sebuah tas jinjing yang ia selempangkan dibahunya sambil membengkokkan tangannya dengan gemulai. ( “Wat de pak.., Fak..Fak..Fak.!!” )
Alhamdulillahnya saya beruntung. Dan bila terjadi sesuatu diangkot itu,, saya lebih memilih "dia" sebagai seorang Preman, dari pada "dia" sebagai seorang Gay..!
“Kalo gw ditampol Preman, palingan muka gw lecet dikit! Tapi kalo gw ampe ‘ditusuk’ ama Gay, penderitaan dan rasa hina ini akan selalu mendera batin gw hingga akhir hayat..!” Pikir saya.
==================================

Jika kita bicara soal preman-isme atau “preman”, permasalahan itu biarkanlah Om Polisi atau Pakdhe TNI yang mengurusnya. Yang saya ingin bicarakan disini adalah persoalan tentang “boyband korea ala indonesia”. Wadhuh, kok ampe jauh bener pembahasan ama judul yang ditempel diatas? (ah, biarin). Tapi gak sejauh itu, hal ini justru perlu untuk kita pertimbangkan lebih seksama lagi.
Ada sebuah fenomena budaya baru yang belakangan “booming” di Indonesia. Dan buruknya lagi, fenomena itu berakhir pada semaraknya paham Gay-isme di negara ini.
Pertama
adalah menjamurnya paham Alay-isme di Indonesia. Hal ini tak terlepas dari pengaruh acara-acara di televisi yang mengusung konsep ‘alay’ sebagai materinya (contoh: dahsyat@rcti / inbox@sctv). Disini bukan pelakunya yang saya soroti (artis/acara/dll). Tapi pengaruhnya yang diberikan pada generasi muda kita. Jika anda melihat dari sudut pandang saya, generasi muda kita mengalami sedikit perubahan dalam hal gaya dan prilaku ( baik/buruk tergantung kita yang menilai). Dan saya menilai hal itu buruk! Remaja kita (SD - SMP), mereka cenderung menganut paham ‘alay’ dalam pola sosialnya, Kenapa? Karena mereka disuguhi tontonan yang bermaterikan ‘alay’.
Kedua
adalah menjamurnya ‘Boyband ala korea’ di Indonesia. Sekali lagi saya tekankan bahwa bukan pelakunya yang saya soroti, tetapi efek yang mereka timbulkan. Saya tidak membahas masalah girlband karena saya rasa tidak ada yang salah dengan mereka, lumra jika seorang wanita bersolek dan berprilaku kemayu. Tapi bagaimana jika pria yang seperti itu? Jika kita mengitip ke negara tempat kelahiran saya (Korea, hehe..), disana boyband memang menjadi trend, namun tidak terlalu memberi efek pada karakter generasi mudanya, Kenapa? Karna semua pemuda di korea berkewajiban untuk mengikuti pelatihan militer. Jadi walaupun mereka bersolek dan bergaya kemayu di media, namun karakter mereka tetap terimbangi (mungkin anda sudah paham arah pembicaraan saya).
Lalu bagaimana dengan Indonesia?
Generasi remaja kita cenderung memiliki insting untuk mengikuti trend yang sedang popular. Berawal dari merebaknya paham ‘alay’, datangnya ‘boyband ala korea’ ini seolah menjadi pembenaran atas konsep ‘alay-isme’ yang mereka usung. Sialnya, hal ini tidak berhenti sampai disini, dan akan terus berlanjut…
Tayangan boyband-boyband yang ikut popular di Indonesia (mau tidak mau harus diakui) memberikan efek psikologis pada konsumennya, dalam hal ini kebanyakan remaja-remaja yang masih labil. Remaja disini saya golongkan sebagai remaja laki-laki saja. Disadari atau tidak, mereka akan meniru karakter yang mereka idolakan. Dan jika boyband-boyband yang sedang menjamur ini menjadi idola mereka, hal yang akan terjadi sudah dapat kita bayangkan. Sebuah generasi muda yang bersifat pesolek dan kemayu (Additional bonus : ALAY included). Dan hal ini bisa jadi berujung pada aliran Gay-isme jika mereka tidak berhati-hati dan mawas diri.
Saya bicara bukan hanya omong-kosong. Silahkan anda telusuri jejaring social seperti Facebook atau Twitter, anda bisa mendapati banyak sekali komunitas Gay yang menjamur. Mungkin mereka sudah ada sejak dulu. Namun, munculnya wabah ‘boyband ala korea’ mendorong mereka untuk berani mempublikasikan diri. Dan bayangkan jika komunitas mereka terus berkembang!
Saat ini di kota-kota besar, jika mata anda jeli untuk memperhatikan, kita dapat menemui para "manusia setengah dewa pria"  ini. Badan tegap dan berotot bukan lagi jaminan kejantanan seorang pria pada saat ini, seperti contoh kisah yang saya alami sendiri diatas (justru yang kurus kering kayak saya ini yang dijamin tulen, hehe..). Bahkan menurut mitos, mereka senang berkumpul di Gym atau Tempat kebugaran untuk berkamuflase.
Sekarang mari kita sejenak membayangkan, apa jadinya bangsa ini jika para pemudanya berubah menjadi seperti itu???
Bayangkanlah apa jadinya  jika karakter remaja kita berubah menjadi seperti gambar dibawah ini !
1367255101848796487
Point yang ingin saya berikan disini adalah bukan tentang buruknya genre ‘Boyband ala Korea’, tetapi kewaspadaan kita untuk tetap mempertahankan karakter kita sesuai dengan kodrat yang telah Tuhan berikan...
Waspadalah.. Waspadalah..!!!
( Hukum dinegara ini menjamin hak warganegara untuk menyampaikan pendapat, pergunakanlah hak itu dijalan yang baik & benar dengan berkomentar.. Piss..!! )

Description: Bahaya mana: Preman-isme atau Gay-isme ?? Rating: 4.5 Reviewer: F. G. Ramadhan - ItemReviewed: Bahaya mana: Preman-isme atau Gay-isme ??

0 komentar:

NO SPAM, SPAMER'S AKAN SECARA OTOMATIS TERHAPUS DARI FORM KOMENTAR, TERIMAKASIH !