Translate This Page

Refleksi Penilaian Harga Diri

          Jika kita bicara tentang masalah kualitas diri, tentunya akan jauh lebih mudah bagi kita untuk  menentukan kualitas diri orang lain menurut sudut penilaian kita. Lalu bagaimana caranya agar kita bisa menilai kualitas diri kita sendiri? Tentu saja itu mudah, kita tinggal balikkan keadaan dengan meminta orang lain untuk menilai diri kita. Tapi kembali lagi bahwa penilaian itu hanyalah penilaian subjektif dari si pemberi nilai.
            Menurut prinsip ekonomi dikatakan bahwa kualitas itu sebanding dengan harga, kualitas yang baik memiliki harga yang baik pula. Lalu bagaimana untuk mengetahui nilai kualitas diri kita secara hakiki? Sesungguhnya hanya si pemilik dirilah yang bisa memberi nilai masti tentang kualitas dirinya sendiri. Bagaimana caranya? Tak lain  dengan merefleksikan diri secara jujur, agar kita bisa melihat seberapa berharganya diri kita sendiri!

Sebagai bahan refleksi, saya menemukan sebuah artikel yang dapat memberi pesan bagi kita untuk mengukur  kualitas diri kita sendiri. Berikut artikel yang dalam kesempatan ini saya bagikan kembali:

==============================================================

”Harga” disini tentunya tidak semata-mata dimaksudkan dengan nilai sejumlah uang. Seperti kalau kita mau membeli sesuatu di toko atau membeli mobil di show room.Berapa harga dari sebuah barang atau properti,tergantung pada pemiliknya. Ada yang mau membeli atau tidak ,adalah urusan lain.

Semakin berharga sesuatu dimata orang, semakin tinggi nilai jualnya. Ada sejuta contoh yang dengan mudah dapat kita saksikan dalam kehidupan se hari harian. Misalnya harga emas,pasti jauh lebih mahal dari pada perak. Sebuah jam Rolex , bisa nilai jualnya mencapai 500 kali dari hari jam biasa. Emas 24 karat ,jelas jauh lebih tinggi nilainya atau harga jualnya dibanding emas 18 karat.

Manusia juga punya “harga jual “ masing masing. Namun alangkah tidak etisnya bila manusia di beri label harga seperti halnya sebuah barang. Maka kata “harga jual” di perhalus dengan kata “harga diri”

Nah berapa harga diri anda? Berapa harga diri saya? Berapa pula harga diri orang lain? Please don’t ask me,ask your heart,because the answer is in your heart…” Mari kita bertanya,bukan pada rumput yang bergoyang,tapi bertanya pada diri kita sendiri. Kita lah yang menentukan harga diri. Tentang penilaian orang lain terhadap kita,itu bersifat relatif dan berada diluar kontrol kita.

Ada orang yang nilainya: cuma 100 ribu rupiah .
Ada yang satu juta,sepuluh juta ,seratus juta dan seterusnya.

MENGAPA ?
Orang yang tega makan di kedai atau di kantin, tanpa bayar,maka nilai jualnya cuma senilai semangkok bakso atau sepiring nasi goreng, yang harganya tidak lebih dari 5 ribu rupiah. Adakah orang tipe seperti ini? Jawabannya sangat menyedihkan:” Banyaak sekali….”

Lebih lanjut, meminjam pulpen teman,merasa pulpennya bagus,terus pura pura lupa mengembalikan,maka nilainya adalah senilai pulpen ini.

Ada barang ketinggalan dan kita tahu siapa pemiliknya,tapi berpikir “ini rejeki nomplok” dan berniat memilikinya.maka harga diri kita adalah senilai barang tersebut.

Makan direstaurant mewah,selesai makan,pura pura bertengkar dengan sesama teman dan ngeloyor pergi tanpa bayar. Pemilik restaurant,karena tidak mau ribut,diam saja. Maka nilai kelompok ini adalah senilai makanan yang dipesannya.

Meningkat lagi,kongsi dagang dengan sahabat baik. Karena kelamaan pegang uang teman,merasa sayang untuk mengembalikan, maka dengan mencari cari alasan,uang sahabat tidak dikembalikan. Maka nilai orang ini adalah senilai hak sahabatnya yang dipercayakan padanya.

Sekalipun tingkatan nya beda, tapi kategori mereka adalah sama,yaitu: orang yang tidak punya harga diri. Orang yang tidak punya harga diri adalah orang yang tidak layak dipercayai. Orang yang tidak layak dipercayai,tidak layak dijadikan sahabat.

(Kita tidak mungkin melakukan hal besar setiap hari.Tetapi pasti bisa melakukan hal hal kecil untuk meringankan beban orang lain,misalnya menawarkan tempat duduk bagi yang lebih membutuhkan.)


HARGA DIRI SEMU
Suatu waktu, ketika kami berada di tanah air. saya dan istri ke salah satu bank swasta terkenal di ibu kota,layanan yang kami terima sungguh luar biasa. Baru mendekati pintu masuk.bergegas seorang sekuriti membukakan pintu,sambil berkata :”Selamat pagi bapak dan ibu,silakan masuk,” sambil tersenyum ramah
Begitu kami melangkah masuk, langsung disambut senyum manis si mbak,petugas bank.:” Selamat pagi ,bapak dan ibu,silakan duduk, Maaf,apa yang bisa kami bantu?”
“Kami mau setor uang mbak”,jawab istri saya.
“Oya,baik bu,kami siapkan segera”,jawab si mbak.
Begitu si mbak melangkah ,satu lagi mbak yang lain datang:” Selamat pagi bapak dan ibu,maaf sementara menunggu,boleh saya sediakan minuman kopi atau teh hangat? “
“Iya boleh Mbak,terima kasih”Jawab saya..
“Sekali camilannya ya Pak?” si Mbak sambil tetap tersenyum manis.
Tidak sampai 3 menit,secangkir capuccino hangat ,sudah dihidangkan dihadapan kami. Dan belum sempat kami minum.manager keuangan sudah datang menghampiri meja,dimana kami duduk. “Selamat pagi bapak dan ibu.Aduh,sudah lama tidak kelihatan yaa…..”,sambil mengulurkan tangan,menyalami kami berdua.

Begitu sopan ,manis dan ramah tamahnya pelayanan yang kami terima ….
Tetapi saya memahami.mereka begitu ramahnya pada kami,, karena kami orang penting. Tapi karena memiliki kartu “sakti” yang namanya “PRIORITAS”. Mereka tahu apa arti kartu ini=.Jadi segala pelayanan yang saya terima adalah bagian dari “harga diri semu”,bukan karena saya bernama Tjiptadinata Effendi,tetapi karena saya memegang Kartu Prioritas!

Refleksi
Saya masih ingat ketika saya diusir dengan cara halus ,tapi amat menyakitkan dari bank,ketika pertama kali saya ingin mengajukan permohonan Kredit Usaha Kecil.. Kata Pimpinan Bagian Kredit:” Anda tidak punya sertifikat,tapi mau pinjam uang? Yang benar ajaa… disini kepala tidak laku dijadikan agunan…..”
Nah,pada waktu itu,Kepala Bagian Kredit,menilai diri saya :” NOLBESAR”.karena saya tidak memiliki sertifikat.
Tetapi, 8 tahun kemudian,ketika saya sudah jadi pengusaha.berlomba lomba bank menawarkan pinjaman tanpa agunan! Bahkan tanpa diminta,saya dikirimi kartu Kredit Unlimited..tidak terbatas,yang serta merta saya kembalikan lagi.

Sesuatu yang sangat ironis memang, dikala kita sangat membutuhkan,tidak seorangpun yang mau meminjamkan uang. Bahkan ketika anak kami sakit,saya harus menjual cincin kawin,untuk beli obat. Tetapi ketika kita tidak butuh,berlomba lomba orang ingin”berbuat baik”pada kita…Huuuuuh…suatu harga diri yang semu…Begitulah hukum yang tidak tertulis,tapi nyata. Menyakitkan ,tapi hal itu terjadi dari dulu,hingga sekarang……

Sepotong Kisah Kejujuran:
Tahun lalu, sebelum keberangkatan saya dan istri ke Eropa, kami singgah di salah satu mall di daerah Jondalup,di Western Australia. Selesai shopping,isteri saya ke toilet umum disana. Kemudian kami balik ke rumah ,karena akan bersiap siap ke bandara.

Dipertengahan jalan,tiba tiba istri saya ingat ,dompet ketinggalan di toilet umum. Kami semuanya kaget. Cucu kami yang nyetir mobil,langsung putar balik kendaraan ,menuju ke mall lagi. Begitu sampai ia langsung lari ke toilet umum. Ternyata dompetnya tidak ada lagi.Terus ia bertanya kepada security dan mendapatkan jawaban:” Tadi ditemukan oleh seorang gadis,pelayan coffee shop Gloria Jean,coba tanya kesana, Maka berlarilah cucu kami ke coffee shop disebut. Sementara itu saya dan istri juga sudah menyusul kesana.

Dengan perasaan agak tegang,saya minta bicara dengan managernya dan mengatakan bahwa kami dapat info dari sekuriti ,bahwa salah satu karyawatinya telah menemukan dompet istri saya.

Manager Coffee Shop tersebut tidak menjawab pertanyaan saya.tapi memandang sejenak ke istri saya dan tersenyum: ”You are very lucky m’dam.My staff have found your wallet in the restroom. There is a lot of money..here you are”.
Tahu isinya berapa? Lumayan, 4.500 Euro, untuk biaya perjalanan kami selama sebulan di Eropa. Nilai itu setara dengan lebih dari 50 juta uang kita!

Kami minta ketemu dengan karyawatinya yang menemukan,tapi karena peraturan mereka,tidak boleh diberi ucapan terima kasih dengan uang, maka oleh istri saya diberikan sebuah kalung yang cukup berharga.Apa reaksi gadis ini? Ia mengatakan :” Maaf,anda tidak harus memberikan ini pada saya, karena saya hanya mengembalikan barang milik anda”

Tapi kami katakan,ini hanya sebuah kenang kenangan kecil,karena istri saya senang,dompetnya bisa kembali.Akhirnya ungkapan terima kasih dalam bentuk kalung tersebut diterima juga.

Gadis remaja ini, bukannya tidak tahu nilai uang ada didalam dompet tersebut., katanya :” Itu bukan milik saya. Jadi saya tidak boleh menyimpan untuk diri saya”. kejujuran sudah mendarah daging dalam dirinya. Sungguh harga diri gadis ini tidak bisa dinilai dengan uang…

Memang tidak ada kejujuran yang absolut pada manusia, karena hanya Tuhanlah Yang Maha Sempurna. Tetapi tanpa memiliki kejujuran, maka tidak akan ada keluarga yang harmonis. Tanpa kejujuran, tidak ada kasih sayang yang tulus. Segala kejujuran, harus diawali dengan terlebih dulu jujur pada diri sendiri. Orang yang tidak jujur pada diri sendiri.mustahil dapat diharapkan berlaku jujur pada keluarganya, apalagi pada orang lain.


RENUNGAN DIRI:
Bila kita tidak bisa memberi, jangan mengambil /menahan hak orang lain
Bila kita tidak bisa meringankan beban orang lain,jangan membebani.
Bila kita tidak bisa menyayangi,minimal jangan membenci
Bila kita tidak bisa berbuat kebaikan ,minimal jangan berbuat kejahatan.
Bila terlalu sulit menjadi orang saleh,minimal jangan jadi orang munafik.
Bila terlalu sulit berbelas kasih terhadap sesama, minimal jangan melukai.
Bila tidak bisa menghibur,janganlah menyedihkan.
Janganlah mengajarkan tentang kasih, bila dalam diri kita tidak ada kasih.
Janganlah mengajarkan tentang memaafkan, bila kita masih menyimpan dendam dihati.
Kita tidak mungkin memberi,sesuatu yang tidak kita miliki..



Description: Refleksi Penilaian Harga Diri Rating: 4.5 Reviewer: F. G. Ramadhan - ItemReviewed: Refleksi Penilaian Harga Diri

0 komentar:

NO SPAM, SPAMER'S AKAN SECARA OTOMATIS TERHAPUS DARI FORM KOMENTAR, TERIMAKASIH !