Translate This Page

Seputar Malam Nisfu Sya'ban

Pada shalat Jum'at tadi, tausyiah yang dibawakan oleh bapak khatib adalah tentang faedah dan keutamaan malam nisfu sya'ban. Sedikit petikan dari khutbah jumat tadi siang adalah sebagai berikut:

Hadist: dari Usamah bin Zaid, beliau bertanya,

يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ
“Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat anda berpuasa dalam satu bulan sebagaimana anda berpuasa di bulan Sya’ban?”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“Ini adalah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadhan. Ini adalah bulan dimana amal-amal diangkat menuju Rab semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa.’” (HR. An Nasa’i 2357, Ahmad 21753, Ibnu Abi Syaibah 9765 dan Syuaib Al-Arnauth menilai ‘Sanadnya hasan’). 

Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang mengingatkan sesama tentang kedatangan bulan ini. Maka api neraka haram baginya.”  (Hadist ini diragukan keshahihannya)

Bapak khatib melanjutkan, bahwa barang siapa yang shalat malam pada nishfu sya'ban maka dia akan mendapat pahala seperti pahala ibadahnya 70 nabi. (kalo saya gak salah denger yaak). 
Astaghfirullah, tahun demi tahun berlalu tanpa pernah teringat sedikitpun akan momentum Malam nishfu sya'ban. Iman ini pun sedikit tumbuh karena dorongan tausyiah siang tadi. Dan untuk sekedar menambah ketebalan iman, saya telusuri dunia maya untuk mengetahui lebih jauh tentang keutamaan malam Nishfu Sya'ban ini. Namun ternyata penelusuran saya malah berujung pada perbedaan pandangan dan silang pendapat antara para ulama terkait dengan Nishfu Sya'ban ini. Setelah sedikit mempelajari dengan keterbatasan ilmu yang saya miliki, saya pun merangkum beberapa artikel berikut ini:

Nisfu Sya'ban berasal dari kata Nisfu (bahasa Arab) yang berarti separuh atau pertengahan, Sya'ban adalah nama bulan ke-8 dalam kalender Islam. Dengan demikian nisfu sya'ban berarti pertengahan bulan Sya'ban. 

Apa yang menyebabkan malam Nisfu Sya’ban ini besar artinya bagi umat Muslim ? 
Berikut ini diceritakan seperti yang di alami Rasulullah Saw:
Kebesaran hari ini diterangkan oleh Rasulullah saw.
”Malaikat Jibril mendatangiku pada malam Nishfu (15) Sya’ban, seraya berkata, ”Hai Muhammad, malam ini pintu-pintu langit dibuka. Bangunlah dan Shalatlah, angkat kepalamu dan tadahkan dua tanganmu kelangit.”
Rasulullah saw bertanya, ” Malam apa ini Jibril ?”
Jibril menjawab. ” Malam ini dibukakan 300 pintu rahmat. Allah mengampuni kesalahan orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, kecuali tukang sihir, tukang nujum, orang bermusuhan, orang yang terus menerus minum khamar (arak atau minuman keras), terus menerus berzina, memakan riba, durhaka kepada ibu bapak, orang yang suka mengadu domba dan orang yang memutuskan silaturahim. Tuhan tidak mengampuni mereka sampai mereka taubat dan meninggalkan kejahatan mereka itu .”
Rasulullah pun keluar rumah, lentas mengerjakan shalat (sendirian) dan menangis dalam sujudnya, seraya berdoa :
.”Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab dan siksa-Mu serta kemurkaan-Mu
Tiada kubatasi pujian-pujian kepada-Mu sebagaimana Engkau memuji diri-Mu, maka bagi-Mu lah segala pujia-pujian itu hingga Engkau rela .” (HR Abu Hurairah)

Lalu bagaimana kita merayakan bulan sya'ban (atau tepatnya) pada malam nisfu sya'ban?
Meramaikan malam Nisfu Sya'ban dengan berlebih-lebihan seperti dengan salat malam berjamaah, Rasulullah saw tidak pernah melakukannya. Apa yang sering dilakukan oleh sebagian umat Islam, yaitu Salat Malam Nisfu Sya'ban atau disebut juga sholat Raghaib sebanyak 100 rakaat, ini tidak ada landasannya dan termasuk bid'ah. Imam Nawawi dalam kitab Majmuk mencela amalan ini.
Demikian juga tidak ada do'a khusus untuk malam nisfu Sya'ban, namun cukup dengan do'a-do'a umum terutama do'a yang pernah dilakukan Rasulullah. Jadi meramaikan malam Nisfu Sya'ban dengan cara memperbanyak ibadah, salat, zikir membaca al-Qur'an, berdo'a dan amal-amal salih lainnya adalah hal yang diperbolehkan, namun dengan catatan bahwa pelaksanaan ibadah tersebut tak hanya semata-mata untuk mengagungkan malam nishfu sya'ban saja.

Sebagai catatan, saya mendapati sebuah artikel yang menuliskan seperti ini:
1).Ritual Nishfu Sya’ban terjadi hampir 5 abad setelah Nabi Wafat. Maka jelas tidak ada Sunnahnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
2).Yang pertama kali mengadakan Ritual Nishfu Sya’ban orang yang bernama : Babin Abul Hamro ini, bukanlah seorang Ulama apalagi Ulama Mu’tabar (yang dikenal, diakui dan diikuti) keilmuannya, tetapi hanyalah seorang ahli baca Al Qur’an.
3).Ulama Ulama yang Mu’tabar : Imam ibnu Jauzi, An Nawawi, Ibnu Taimiyah, Ibnu Rajab, Ibnu Katsir, Ibnu Hajar dll telah mengingkari dan membid’ahkan Ritual Nishfu Sya’ban yang memenuhi Kitab-kitab mereka.
4). Menghidupkan malam nisfu sya’ban dengan "ibadah khusus" ( do’a, membaca yaasin, kumpul-kumpul dengan do’a barokah untuk air dsb.) bukan sunnah Nabi Muhammad Shallallahu tetapi amalan Pelaku Bid’ah yang dilestarikan.


Dalil Hukum (Pem-bid'ah-an) Peringatan Malam Nisfu Sya'ban
Ada beberapa dalil yang di jadikan dasar oleh mayoritas ulama terkait dengan hukum bid'ah dari perayaan malam nisfu sya'ban yang mungkin populer dilakukan oleh masyarakat kita:
Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman (yang artinya) :
“Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan nikmat-Ku dan telah Kuridhai Islam sebagai agama bagimu “.(QS. Al Maidah : 3).

Dan Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam pernah pernah bersabda (yang artinya):
“Barang siapa mengada-adakan satu perkara (dalam agama) yang sebelumnya belum pernah ada, maka ia tertolak “. (HR. Bukhari Muslim)

Beliau menjelaskan segala sesuatu yang akan diada-adakan oleh sekelompok manusia sepeninggalnya dan dinisbahkan kepada ajaran Islam baik berupa ucapan ataupun perbuatan, semuanya bid’ah yang tertolak, meskipun niatnya baik. Para sahabat dan ulama mengetahui hal ini, maka mereka mengingkari perbuatan-perbuatan bid’ah dan memperingatkan kita dari padanya. 

Diantara bid’ah yang biasa dilakukan oleh banyak orang adalah bid’ah mengadakan upacara peringatan malam nisyfu sya’ban dan mengkhususkan hari tersebut dengan puasa tertentu. Padahal tidak ada satupun dalil yang dapat dijadikan sandaran, memang ada beberapa hadits yang menegaskan keutamaan malam tersebut akan tetapi hadits-hadits tersebut dhaif sehingga tidak dapat dijadikan landasan. Adapun hadits-hadits yang menegaskan keutamaan shalat pada hari tersebut adalah maudhu’ (palsu).

Banyak di kalangan masyarakat juga yang meyakini bahwa malam nishfu sya'ban adalah malam ditutupnya buku amalan. Pemahaman yang seperti ini dirasa salah karena islam tidak mengenal istilah "tutup buku amal" terkecuali jika seseorang telah meninggal dunia. Adapun kesalah pahaman tersebut mungkin dikarenakan salah pengertian terhadap hadist rasulullah yang berbunyi:
“Ini adalah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadhan. Ini adalah bulan dimana amal-amal diangkat menuju Rab semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa.’” (HR. An Nasa’i 2357, Ahmad 21753, Ibnu Abi Syaibah 9765 dan Syuaib Al-Arnauth menilai ‘Sanadnya hasan’).

Populer juga dikalangan masyarakat kita untuk meminta maaf kepada sesama dikala mendekati malam nishfu sya'ban. Hal ini pun dirasa sebagai kesalah-pemahaman. Meminta maaf kepada sesama adalah suatu perbuatan yang mulia, namun nilai kemuliaan itu kabur ketika kita menganggapnya hanya merupakan sebuah tradisi. Dan mungkin kesalah-pemahaman itu berdasar pada kesalah-pengertian terhadap Hadist berikut:
 "......Malam ini dibukakan 300 pintu rahmat. Allah mengampuni kesalahan orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, kecuali tukang sihir, tukang nujum, orang bermusuhan, orang yang terus menerus minum khamar (arak atau minuman keras), terus menerus berzina, memakan riba, durhaka kepada ibu bapak, orang yang suka mengadu domba dan orang yang memutuskan silaturahim. Tuhan tidak mengampuni mereka sampai mereka taubat dan meninggalkan kejahatan mereka itu .” (HR. Abu Hurairah)

Al-Hafidz ibnu Rajab dalam bukunya “Lathaiful Ma’arif ‘ mengatakan bahwa perayaan malam nisfu sya’ban adalah bid’ah dan hadits-¬hadits yang menerangkan keutamaannya adalah lemah.

Imam Abu Bakar At Turthusi berkata dalam bukunya `alhawadits walbida’ : “Diriwayatkan dari wadhoh dari Zaid bin Aslam berkata :”kami belun pernah melihat seorangpun dari sesepuh ahli fiqih kami yang menghadiri perayaan nisyfu sya’ban, tidak mengindahan hadits makhul (dhaif) dan tidak pula memandang adanya keutamaan pada malam tersebut terhadap malam¬-malam lainnya”.

Dalam kitab “Al-Mukhtashar” Syaukani melanjutkan : “Hadits yang menerangkan shalat nisfu sya’ban adalah batil” .

Al-Hafidz Al-Iraqy berkata : “Hadits yang menerangkan tentang sholat nisfu sya’ban adalah maudhu’ dan merupakan pembohongan atas diri Rasulullallah Shalallahu’alaihi Wassallam".

Ibnu Hibban meriwayatkan hadits dari Ali : “…Jika datang malam nisfu sya’ban bershalat malamlah dan berpusalah pada siang harinya”. (Inipun adalah hadits yang dhaif.)

Dalam penjelasan diatas tadi, seperti ayat-ayat Al-Qur’an dan beberapa hadits serta pendapat para ulama jelaslah bagi pencari kebenaran (haq) bahwa peringatan malam nisfu sya’ban dengan pengkhususan sholat atau lainnya, dan pengkhususan siang harinya degan puasa itu semua adalah bid’ah dan mungkar tidak ada dasar sandarannya didalam syari’at Islam ini, bahkan hanya merupakan perkara yang diada-adakan dalam Islam setelah masa hidupnya para shahabat.

Untuk lebih memperjelas, mari kita lihat papaparan Quran dan hadist berikut ini:
Marilah kita hayati ayat Al-Qur’an dibawah ini (yang artinya):
“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan Ku-Ridhoi Islam sebagai agamamu”. (QS. Al Maidah : 3).
Dan banyak lagi ayat-ayat lain yang semakna dengan ayat diatas. Selanjutnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):
“Barang siapa mengada-adakan satu perkara (dalam agama) yang sebelumnya belum pernah ada, maka ia tertolak”. (HR. Bukhari Muslim).

Dalam hadits lain beliau bersabda (yang artinya):
“Janganlah kamu sekalian mengkhususkan malam jum ‘at dari pada malam-malam lainnya dengan suatu sholat, dan janganlah kamu sekalian mengkhususkan siang harinya untuk berpuasa dari pada hari-hari lainnya, kecuali jika sebelum hari itu telah berpuasa” (HR. Muslim).

Seandainya pengkhususan suatu malam dengan ibadah tertentu itu dibolehkan oleh Allah, maka bukankah malam jum’at itu lebih baik dari pada malam-malam lainnya, karena hari jum’at adalah hari yang terbaik yang disinari oleh matahari? Hal ini berdasarkan hadits-hadits Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam yang shohih.

Tatkala Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam telah melarang untuk mengkhususkan sholat pada malam hari itu ini menunjukkan malam yang lainnya lebih tidak boleh lagi, begitu pula dengan perkara puasa seperti pada masalah puasa nishfu sya'ban ini. Kecuali jika ada dalil yang shohih yang mengkhususkannya. Dari pendapat-pendapat ulama tadi anda dapat menyimpulkan bahwa tidak ada ketentuan apapun dari Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam ataupun dari para sahabat tentang keutamaan malam malam nisfu sya’ban dan malam jum’at pertama pada bulan Rajab.

Kesimpulan Penulis:
1. Nishfu Sya'ban adalah waktu yang istimewa, sebagaimana diterangkan oleh hadist yang dishahihkan oleh mayoritas ulama. Kita sebagai umat muslim semestinya tidak melupakan begitu saja, bahwa bulan sya’ban adalah bulan yang mulia. Sesungguhnya bulan Sya’ban merupakan bulan persiapan untuk memasuki bulan suci Ramadhan. Dari sini, umat Islam dapat mempersiapkan diri sebaik-baiknya dengan mempertebal keimanan dan memanjatkan doa dengan penuh kekhusyukan.
2. Tidak ada anjuran atau tatacara "ibadah khusus" untuk memperingati malam nishfu sya'ban  menurut ajaran Rasulullah SAW.
3. Terkait dengan kebiasaan maaf-maafan menjelang nishfu sya'ban,  doa, shalat sunah, dan puasa, ibadah-ibadah tersebut adalah mulia. Tidak ada salahnya melakukannya pada nishfu sya'ban, bahkan dianjurkan sebanyak/semampu kita tanpa melihat momentum khusus dari pelaksanaannya. Yang menjadikan amalan tersebut menjadi bid'ah adalah niat dan keyakinan pelaku ibadah yang mengkhususkan ibadah tersebut untuk memperingati malam nishfu sya'ban. (catatan: menurut beberapa hadist, puasa 3 hari  yang dilaksanakan Rasulullah pada awal/pertengahan/akhir tak hanya pada bulan sya'ban saja, tetapi pada bulan-bulan lainnya juga)
4. Merayakan/memperingati/mengagungkan malam nishfu sya'ban secara khusus bukanlah sebuah perbuatan yang dianjurkan Rasulullah SAW. Banyak ulama menganggapnya bid'ah, dan sesuatu yang berupa bid'ah harus kita hindari.
5. Ada perbedaan hakikat tentang pandangan serta pemahaman terhadap dalil-dalil yang dijadikan dasar oleh para ulama. Tentunya perbedaan itu harus kita sikapi secara cerdas. Perbedaan keyakinan yang ada bukan berarti membuat kita bisa saling membenarkan diri dan  menyalahkan yang lain. Menghormati keyakinan orang lain lebih baik daripada menyangsikan perbedaan. Wallahu A'lam Bishawwab!


Belajarlah Membiasakan Setiap Kebenaran
Bukan
Membenarkan Setiap Kebiasaan

Semoga artikel ini bermanfaat, dan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik untuk diri penulis secara khusus. Semoga Allah senantiasa memberikan nikmat iman dan islam pada diri kita. Dan semoga kita dapat selalu istiqomah menjalankan ibadah dijalanNya sesuai dengan tuntunan Rasulullah Muhammad SAW..



Description: Seputar Malam Nisfu Sya'ban Rating: 4.5 Reviewer: F. G. Ramadhan - ItemReviewed: Seputar Malam Nisfu Sya'ban

0 komentar:

NO SPAM, SPAMER'S AKAN SECARA OTOMATIS TERHAPUS DARI FORM KOMENTAR, TERIMAKASIH !