Translate This Page

Memaknai perkerjaan dalam hidup


         Mungkin bagi kita (saya pribadi) bekerja sudah menjadi mainset dalam hidup sebagai kebutuhan, dalam hal ini kebutuhan akan materi. Dan karena prinsip itulah seringkali saya berpikir (bahkan mempraktikan) bahwa syarat dalam bekerja haruslah mampu memenuhi kebutuhan materi. Hingga pada saat kita merasa bahwa pekerjaan kita tidak mampu memberikan materi sesuai kebutuhan kita, secara insting pun kita akan berusaha untuk mencari alternatif lainnya. Beruntung jika kita mampu mencari tambahan dari pekerjaan kita lainnya, tapi jika tidak? mungkin kita akan memaksakan diri untuk menambah penghasilan dari pekerjaan kita seperti melakukan korupsi atau bermain curang dalam bisnis.
       
  Yang menjadi sorotan pokok adalah bagaimana kita menyikapi pekerjaan sehingga taraf hidup kita menjadi baik. Satu hal yang harus kita perhatikan adalah bekerja bukan untuk mengejar materi semata, materi bukanlah satu-satunya kebutuhan dalam hidup ini, memaknai hidup lebih utama daripada hanya sekedar mengejar materi, hidup ini akan lebih bermakna jika orientasi kita bukan hanya untuk bekerja..! Bekerjalah dengan ikhlas dan sunggguh-sungguh, maka pekerjaan itu yang akan membuat hidup kita lebih mudah dan lebih bahagia. Ada sebuah kisah gambaran  yang mungkin  dapat merefleksikan seseorang yang orientasinya untuk bekerja hanya semata-mata mengejar materi saja.

=====================================
   
        Seorang tukang bangunan yang sudah tua berniat untuk pensiun dari profesi yang sudah ia geluti selama puluhan tahun. Ia ingin menikmati masa tua bersama istri dan anak cucunya. Ia tahu ia akan kehilangan penghasilan rutinnya. Namun bagaimanapun tubuh tuanya butuh istirahat. Ia pun menyampaikan rencana tersebut kepada mandornya. Sang Mandor merasa sedih, sebab ia akan kehilangan salah satu tukang kayu terbaiknya, ahli bangunan yang handal yang ia miliki dalam timnya. Namun ia juga tidak bisa memaksa. Sebagai permintaan terakhir sebelum tukang kayu tua ini berhenti, sang mandor memintanya untuk sekali lagi membangun sebuah rumah untuk terakhir kalinya.

      Dengan berat hati si tukang kayu menyanggupi namun ia berkata karena ia sudah berniat untuk pensiun maka ia akan mengerjakannya tidak dengan segenap hati. Sang mandor hanya tersenyum dan berkata, "Kerjakanlah dengan yang terbaik yang kamu bisa. Kamu bebas membangun dengan semua bahan terbaik
yang ada."

        Tukang kayu lalu memulai pekerjaan  terakhirnya. Ia begitu malas-malasan. Ia asal-asalan membuat rangka bangunan, ia malas mencari, maka ia gunakan bahan-bahan berkualitas rendah. Sayang sekali, ia memilih cara yang buruk untuk mengakhiri karirnya. Saat rumah itu selesai.
         Sang mandor datang untuk memeriksa. Saat sang mandor memegang daun pintu depan, ia berbalik dan berkata, "Ini adalah
rumahmu, hadiah dariku untukmu!"

          Betapa terkejutnya si tukang kayu. Ia sangat menyesal. Kalau saja sejak awal ia tahu bahwa ia sedang membangun rumahnya, ia akan mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Sekarang akibatnya, ia harus tinggal di rumah yang ia bangun dengan asal-asalan.

                                       =====================================

Inilah refleksi hidup kita!
Pikirkanlah kisah si tukang kayu ini. Anggaplah rumah itu sama dengan kehidupan Anda. Setiap kali Anda memalu paku, memasang rangka, memasang keramik, lakukanlah dengan segenap hati dan bijaksana.
        Memang pada dasarnya, bekerja merupakan sebuah keharusan dalam hidup. Bekerjalah dengan ikhlas, bukan semata-mata demi materi. Hidup akan lebih bermakna jika kita jalani dengan ikhlas. Keikhlasan akan membawa kita pada kebahagian...

"Jika engkau hanya mengejar dunia, maka dunia yang akan memperbudak engkau..!"

Anda mungkin tertarik untuk membaca artikel terkait tentang Konsep sederhana tentang masalah dalam hidup !




Description: Memaknai perkerjaan dalam hidup Rating: 4.5 Reviewer: F. G. Ramadhan - ItemReviewed: Memaknai perkerjaan dalam hidup

1 komentar:

NO SPAM, SPAMER'S AKAN SECARA OTOMATIS TERHAPUS DARI FORM KOMENTAR, TERIMAKASIH !