Kisah Musa a.s & Al-Khidir
By
Unknown
Kisah Motivasi dan Pelajaran Hidup
0
komentar
Pada suatu ketika Nabi Musa berdakwah
di depan kaumnya Bani Isra'il. Ia memberi nasihat dengan mengingatkan kepada
mereka akan kurnia dan nikmat Allah yang telah dicurahkan kepada mereka yang
sepatutnya diimbangi dengan syukur dan pelaksanaan ibadah yang tulus, melakukan
segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Kepada mereka yang
beriman, bertaat dan bertakwa, Nabi Musa menjanjikan pahala surga dan bagi
mereka yang mengingkari nikmat Allah diancam dengan seksa api neraka.
Begitu Nabi Musa
mengakhiri dakwahnya, bangunlah di antara para hadiri bertanya kepadanya: "Wahai Musa, siapakah di atas bumi
Allah ini paling pandai dan paling berpengetahuan?"
"Aku", jawab Musa.
“Apakah tidak ada kiranya orang yang lebih pandai dan lebih
berpengetahuan daripadamu?" ditanyanya lagi
"Tidak ada" , ujar Musa seraya berkata dalam hati
kecilnya: " Bukankah aku Nabi terbesar di antara Bani Isra'il? Aku adalah
penakluk Fir'aun, pemegang berbagai mukjizat, yang telah dapat membelah laut
dengan tongkatku dan akulah yang memperoleh kesempatan bercakap-cakap langsung
dengan Tuhan. Maka kemuliaan apa lagi yang dapat melebihi kemuliaan serta
kebesaran yang aku capai itu, yang belum pernah dialami dan dicapai oleh
sesiapa pun sebelum aku."
Rasa sombong dan
keunggulan diri yang tercermin dalam kata-kata Nabi Musa, dicela oleh Allah
yang memperingatkan kepadanya bahwa ilmu itu adalah lebih luas untuk dimiliki
oleh seseorang walaupun ia adalah seorang rasul dan bahwa bagaimana luasnya
ilmu dan pengetahuan seseorang, nescaya akan terdapat orang lain yang lebih
pandai dan lebih alim daripadanya. Selanjutnya untuk melanjutkan kekurangan
yang ada pada diri Nabi Musa Allah memerintahkan kepadanya agar menemui seorang
hamba-Nya di suatu tempat di mana dua lautan bertemu. Hamba yang soleh yang
telah diberinya rahmat dan ilmu oleh Allah itu akan memberi tambahan
pengetahuan dan ilmu kepada Nabi Musa sehingga dapat menjadikan sedar bahwa
tiada manusia yang dapat membanggakan diri dengan mengatakan bahwa akulah orang
yang terpandai dan berpengetahuan luas di atas bumi ini.
Berkata Musa
kepada Allah: "Wahai Tuhanku, aku
akan pergi mencari hamba-Mu yang soleh itu, bagi memperolehi bunga api ilmunya
dan mendapat titisan air pengetahuan dan ilham yang Engkau telah berikan
kepadanya."
Allah berfirman kepada Musa: "Bawalah seekor ikan didalam sebuah
keranjang dalam perjalananmu mencari dia dan ketahuilah bahwa di tempat di mana
engkau akan kehilangan ikan di dalam keranjang itu, di situ engkau akan menemui
hamba-Ku yang soleh itu." Nabi Musa menyiapkan diri untuk perjalanan
yang jauh, didampingi oleh "Yusya' bin Nun" seorang dari para
pengikutnya yang setia. Ia membawa bekal makanan dan minuman di antaranya
sebuah keranjang yang terisi seekor ikan sesuai dengan petunjuk Allah. Ia
berkeras hati tidak akan kembali sebelum ia dapat menemui hamba yang soleh itu
walaupun ia harus melakukan perjalanan yang berbulan-bulan bahkan
bertahun-tahun bila perlu. Ia berpesan kepada teman sepejalanannya Yusya' bin
Nun agar segera memberitahu kepadanya bilamana ikan yang di dalam keranjang
yang dibawanya itu hilang.
Tatkala Nabi
Musa beserta Yusya' bin Nun sampai dimana dua lautan bertemu yang telah
diisyaratkan dalam firman Allah kepadanya, tartidurlah ia di atas sebuah batu
yang besar yang berada di tepi lautan. Pada saat ia lagi tidur nyenyak,
turunlah hujan rintik-rintik, membasahi seekor di dalam keranjang itu dan tanpa
mereka ketahui melompatlah ikan tersebut itu masuk ke dalam laut.
Setelah Musa
terjaga dari tidurnya, bangunlah mereka meneruskan perjalanan yang tidak
menentu arah maupun tujuan. Dan dalam perjalanan yang sudah agak jauh,
berhentilah Musa beristirahat sekadar untuk menghilangkan rasa penatnya seraya
meminta dari Yusya bin Nun agar menyiapkan santapannya karena ia sudah sangat
lapar. Ketika Yusya bin Nun membuka keranjang untuk mengambil makanan
teringatlah olehnya akan ikan yang hilang dan melompat ke dalam laut. Maka
berkatalah Yusya' kepada Nabi Musa: "Aku
telah dilupakan oleh syaitan untuk memberitahu kepadamu segera, bahwa tatkala
engkau berada di atas batu karang sedang tidur nyenyak, ikan kami yang berada
di dalam keranjang tiba-tiba hidup kembali setelah kejatuhan air hujan dan
melompat masuk ke dalam laut. Sepatutnya aku melapurkan kkepadamu segera,
sesuai dengan pesananmu, namun aku dilupakan oleh syaitan."
Wajah Nabi Musa
berseri-seri menjadi kegirangan mendengar berita itu dari Yusya' karena telah
dapat mengetahui di mana ia akan dapat bertemu dengan hamba Allah yang dicari
itu. Berkata Musa kepada Yusya': "Inilah
tempat yang kami tuju dan disini kami akan menemui orang yang kami cari.
Marilah kami kembali ke tempat batu karang itu yang menjadi tempat tujuan
terakhir dari perjalanan kami yang jauh ini."
Setiba mereka
kembali di tempat di mana mereka kehilangan ikan, mereka melihat seorang
bertubuh kurus langsing yang pada wajahnya tampak cahaya dan iman serta
tanda-tanda orang soleh. Ia sedang menutpi tubuhnya dan pakaiannya sendiri,
yang segera disingkapnya ketika mendengar kata-kata salam Nabi Musa kepadanya.
"Siapakah engkau?" bertanya orang soleh itu.
Musa menjawab: "Aku adalah Musa."
Bertanya kembali orang soleh itu:
"Musa, nabi Bani Isra'il kah?"
"Betul", jawab Musa, seraya bertanya: "Dari manakah engkau mengetahui bahawa
aku adalah Nabi Bani Isra'il?"
"Dari yang mengutusmu kepadaku", jawab orang soleh itu.
Inilah hamba
Allah yang aku cari, berkata Musa dalam hatinya, seraya mendekatinya dan
berkata kepadanya: "Dapatkah engkau
memperkenankan aku mengikutimu dan berjalan bersamamu ke mana saja engkau pergi
sebagai bayanganmu dan sebagai muridmu? Aku akan mematuhi segala petunjuk dan
perintahmu." Hamba soleh (atau menurut banyak pendapat ahli-ahli
tafsir Nabi Al-Khidhir itu) menjawab: "Engkau
tidak akan sabar dan tidak dapat menahan diri bila engkau mengikutiku dan
berjalan bersamaku. Engkau akan mengalami dan melihat hal-hal yang ajaib yang
sepintas lalu nampak seakan-akan perbuatan yang salah dan mungkar namun pada
hakikatnya adalah perbuatan benar dan wajar dab engkau sebagai manusia tidak
akan berdiam diri melihatku melakukan perbuatan dan tingkah laku yang ganjil
menurut pandanganmu."
Musa menjawab dengan sikap
seorang murid yang ingin belajar dan menambah pengetahuan : "Insya-Allah engkau akan mendapati aku
seorang yang sabar yang tidak akan melanggar sesuatu perintah atau petunjuk
daripadamu."
Berkata Al-Khidhir kepada Musa: "JIka engkau benar-benar ingin
mengikutiku dan berjalan bersamaku maka engkau harus berjanji tidak akan
mendahului bertanya tentang sesuatu sebelum aku memberitahukan kepadamu. Engkau
harus berjanji bahwa engkau tidak akan menentang segala perbuatan dan tindakan
yang aku lakukan dihadapan mu walaupun menurut pandanganmu itu salah dan
mungkar. Aku dengan sendirinya memberi alasan dan tafsiran bagi segala tindakan
dan perbuatanmu kepadamu kelak pada akhir perjalanan kami berdua."
Dengan
diterimanya pesyaratan Al-Khidhir oleh Musa yang berjanji akan mematuhinya
bulat-bulat, maka diajaklah Nabi Musa mengikutinya dalam perjalanan. Pelanggaran
pertama terhadap persyaratan Al-Khidhir terjadi tatkala mereka sampai di tepi
pantai, di mana terdapat sebuah perahu sedang berlabuh. Al-Khidhir meminta
pertolongan pemilik perahu itu, agar menghantar mereka di suatu tempat yang di
tuju. Dengan senang hati diangkutlah mereka berdua secara percuma tanpa bayaran
bahkan dihormati dan diberi layanan yang baik karena dilihatnya oleh pemilik
perahu bahwa kedua orang itu memiliki sifat-sifat dan ciri-ciri yang tidak
terdapat pada orang biasa.
Tatkala mereka
berada dalam perut perahu yang sedang meluncur dengan lajunya di antara
gelombang-gelombang tiba-tiba Musa melihat Al-Khidhir melubangi perahu itu
dengan mengambil dua keping kayunya. Perbuatan mana yang dianggap oleh Musa
suatu gangguan dan pengrusakan bagi milik seseorang yang telah berbuat baik
terhadap mereka. Musa lupa akan janjinya sendiri dan ditegulah Al-Khidhir
dengan berkata: "Engkau telah
melakukan perbuatan mungkar dengan merusak dan melubangi perahu ini. Apakah
dengan perbuatan kamu ini engkau hendak menenggelamkan perahu ini dengan semua
penumpangnya? Tidakkah engkau merasa kasihan kepada pemilik perahu ini yang
telah berjasa kepada kami dan menghantarkan kami ke tempat yang kami tuju tanpa
membayar sepeser pun?"
Berkata Al-Khidhir menjawab
teguran Musa: "Bukankah aku telah
katakan kepadamu bahawa engkau tidak akan sabar menahan diri melihat
tindak-tandukku di dalam perjalanan menyertaiku."
Musa berkata: "Maafkanlah aku. Aku telah lupa akan
janjiku sendiri. Janganlah aku dipersalahkan dan dimarahi akan
kelupaanku."
Permintaan maaf
Musa diterimalah oleh Al-Khidhir dan tibalah meeka berdua di tempat yang dituju
di sebuah pantai. Kemudian perjalanan dilanjutkan di darat dan bertemulah
mereka dengan seorang anak laki-laki yang sedang bermain-main dengan
kawan-kawannya. Tiba-tiba dipanggillah anak itu oleh Al-Khidhir, dibawanya ke
tempat yang agak jauh, dibaringkannya dan dibunuhnya seketika itu. Alangkah
terperanjatnya Musa melihat tindakan Al-Khidhir yang dengan sewenang-wenangnya
telah membunuh seorang anak yang tidak berdosa, seorang yang mungkin sekali
dalam fikiran Musa adalah harapan satu-satunya bagi kedua orang tuanya.
Musa sebagai
Nabi yang diutus oleh Allah untuk memerangi kemungkaran dan kejahatan tidak
dapat berdiam diri melihat Al-Khidhir melakukan pembunuhan yang tiada beralasan
itu, maka ditegurlah ia seraya berkata: "Mengapa
engkau telah membunuh seorang anak yang tidak berdosa? Sesungguhnya engkau
telah melakukan perbuatan yang mungkar dan keji."
Al-Khidhir menjawab dengan sikap dinginnya:
"Bukankah aku telah berkata
kepadamu, bahwa engkau tidak akan sabar menahan diri berjalan dengan aku?"
Dengan rasa malu mendengar
teguran Al-Khidhir itu, berucaplah Musa: "Maafkanlah
aku untuk kedua kalinya dan perkenankanlah untuk aku meneruskan perjalanan
bersamamu dengan pergartian bahwa bila terjadi lagi perlanggaran dari pihakku
untuk kali ketiganya, maka janganlah aku diperbolehkan menyertaimu
seterusnya.Sesungguhnya telah cukup engkau memberi uzur dan memberi maaf
kepadaku."
Dengan janji terakhir
yang diterima oleh Al-Khidhir dari Musa diteruskanlah perjalanan mereka berdua
sampai tiba di suatu desa di mana mereka ingin beristirahat untuk menghilangkan
lelah dan penat mereka akibat perjalanan jauh yang telah ditempuh. Mereka
berusaha untuk mendapat tempat penginapan sementara dan sedikit bahan makanan
untuk sekadar mengisi perut kosong mereka, namun tidak seorang pun dari
penduduk desa yang memang terkenal bachil {pelit} itu yang mau menolong mereka
memberi tempat beristirahat atau sesuap makanan sehingga dengan rasa kecewa
mereka segera meninggalkan desa itu.
Dalam perjalanan
Musa dan Al-Khidhir hendak keluar dari desa itu mereka melihat dinding salah
satu rumah desa itu nyaris roboh. Segera AL-Khidhir menghampiri dinding itu dan
ditegakkannya kembali. Dan secara spontan, tanpa disedar, berkata Musa kepada
Al-Khidhir: "Mengapa engkau berbuat
kebaikan bagi orang-orang yang jahat dan pelit ini. Mereka telah menolak untuk
memberi kepada kami tempat istirahat dan sesuap makanan untuk perut kami yang
lapar. Sepatutnya engkau menuntut upah bagi usahamu menegakkan dinding itu,
agar dengan upah yang engkau perolehi itu dapat kami menutupi keperluan makan
minum kami."
Al-Khidhir menjawab: "Wahai Musa, inilah saat untuk kami
berpisah sesuai dengan janjimu yang terakhir. Cukup sudah aku memberimu
kesempatan dan uzur. Akan tetapi sebelum kami berpisah , akan aku berikan
kepadamu tujuan serta alasan-alasan perbuatan-perbuatanku yang engkau rasakan
tidak wajar dan kurang patut. Ketahuilah hai Musa bahwa pengrusakan bahtera
yang kami tumpangi itu adalah dimaksudkan untuk menyelamatkannya dari
pengambil-alihan oleh seorang raja yang zalim yang sedang mengejar di belakang
bahtera itu. Sedang bahtera itu adalah milik orang-orang fakir-miskin yang
digunakan sebagai sarana mencari nafkah bagi hidup mereka sehari-hari. Dengan
melubangi yang aku lakukan dalam bahtera itu, si raja yang zalim itu akan
berfikir dua kali untuk merampas bahtera itu yang dianggapnya rusak dan
berlubang itu. Maka perbuatanku yang pada lahirnya adalah pengrusakan milik
orang, namun tujuannya ialah menyelamatkannya dari tindakan perampasan
sewenang-wenangnya."
"Adapun tentang anak yang aku bunuh itu ialah bertujuan
menyelamatkan kedua orang tuanya dari gangguan anak yang durhaka itu. Kedua
orang tua anak itu adalah orang-orang yang mukmin, soleh dan bertakwa yang aku
khawatirkan akan menjadi tersesat dan melakukan hal-hal yang buruk karena
dorongan anaknya yang durhaka itu. Aku harapkan dengan matinya anak itu Allah
akan mengurniai anak pengganti yang soleh dan berbakti kepada mereka
berdua."
“Sedang mengenai dinding rumah yang ku perbaiki dan ku tegakkan kembali
itu adalah karena dibawahnya terpendam harta peninggalan milik dua orang anak
yatim piatu. Ayah mereka adalah orang yang soleh ahli ibadah dan Allah
menghendaki bahwa warisan yang ditinggalkan untuk kedua anaknya itusampai
ketangan mereka selamat dan utuh bila mereka sudah mencapai dewasanya, sebagai
rahmat dari Tuhan serta ganjaran bagi ayah mereka yang soleh dan bertakwa
itu."
"Demikianlah wahai Musa, apa yang ingin engkau ketahui tentang
tujuan tindakan-tindakanku yang sepintas lalu engkau anggap buruk dan melanggar
hukum. Semuanya itu telah kulakukan bukan atas kehendakku sendiri tetapi atas
tuntunan wahyu Allah kepadaku."
Kisah Musa dan Al-Khidir ini
dapat dibaca dalam surah "Al-Kahfi" ayat 60-82
"60~ Dan {ingatlah} ketika Musa berkata kepada
muridnya: "Aku tidak akan berhenti berjalan sebelum sampai ke pertemuan
dua buah lautan atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun." 61~ Maka
tatkala mereka sampai ke pertemuan dua laut itu, mereka lalai akan ikannya,
lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu. 62~ Maka tatkala mereka
berjalan lebih jauh berkatalah Musa kepada muridnya: "Bawalah kemari
makanan kita sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita
ini." 63~ Muridnya menjawab: "Tahukah kamu tatkala kita mencari
tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa menceritakan tentang
ikan itu dan tidaklah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan
dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali." 64~
Musa berkata: "Itulah tempat yang kita cari." Lalu keduanya kembali,
mengikuti jejak mereka sendiri. 65~ Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di
antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi
Kami dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. 66~ Musa
berkata Al-Khidhir: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan
kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan
kepadamu?" 67~ Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu sesekali kamu tidak
akan sanggup sabar bersamaku, 68~ dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu,
yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?" 69~
Musa berkata: "Insya-Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang
sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun." 70~ Dia
berkata: "Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku
tentang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu." 71~
Maka berjalanlah keduanya, hingga keduanya menaiki perahu, lalu Al-Khidhir
melubanginya. Musa berkata: "Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya
kamu menenggelamkan penumpamgnya?" Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu
kesalahan yang besar. 72~ Dia {Al-Khidhir} berkata: "Bukankah aku telah
katakan: "Sesungguhnya kamu sesekali tidak akan sabar bersama dengan
aku." 73~ Musa berkata: "Janganlah kamu menghukum aku karena
kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam
urusanku," 74~ Maka berjalanlah keduanya hingga tatkala keduanya berjumpa
dengan seorang pemuda maka Al-Khidhir membunuhnya. Musa berkata : "Mengapa
kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya
kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar." 75~ Al-Khidhir berkata:
"Bukankah sudah kukatakan kepadamu bahwa sesungguhnya kamu tidak akan
dapat sabar bersamaku?" 76~ MUsa berkata: "Jika aku bertanya kepadamu
tentang sesuatu sesudah {kali ini} maka janganlah kamu memperbolehkan aku
menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku." 77~
Maka keduanya berjalan hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk negeri
itu tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka kemudian keduanya
dapati dalam negeri itu ada dinding rumah yang hampir roboh, maka Al-Khidhir
menegakkan dinding itu. Musa berkata: "Jikalau kamu mau nescaya kamu akan
mengambil upah untuk itu." 78~ Al-Khidhir berkata : "Inilah
perpisahan antara aku dengan kamu kelak akan ku beritahukan kepadamu tujuan
perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. 79~ Adapun bahter
itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut dan aku bertujuan
merusakkan bahtera itu karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas
tiap-tiap bahtera. 80~ Dan ada pun anak muda itu maka kedua orang tuanya adlah
orang-orang mukmin dan kami khawatir bhe dia akan mendorong kedua orang tuanya
itu kepada kesesatan dan kekafiran. 81~ Dan kami menghendaki supaya Tuhan
mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari
anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya {kepada ibuayahnya}. 82~ Adapun
dinding rumah itu kepunyaan dua orang anak muda yang yatim di kota itu sedang
ayahnya adalah seorang yang soleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka
sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat
dari Tuhanmu dan bukanlah aku melakukannnya itu menurut kemauanku sendiri. Demikianlah
itu adlah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar
terhadapnya." {
Al-Kahfi : 60 ~ 82 }
**CREDIT TO: DANISSHA**
Description: Kisah Musa a.s & Al-Khidir
Rating: 4.5
Reviewer: Unknown -
ItemReviewed: Kisah Musa a.s & Al-Khidir
**CREDIT TO: DANISSHA**
0 komentar:
NO SPAM, SPAMER'S AKAN SECARA OTOMATIS TERHAPUS DARI FORM KOMENTAR, TERIMAKASIH !